Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

Aroma Malam Itu, Cat Kuku yang Terkelupas

‘Tidak ada apa-apa,’ ucap dinginnya. Sisa aroma stroberi, cat kuku tergores, bungkus kondom asing. Bau kebenaran yang harus kau telan diam-diam.

pengkhianatandiambuktiobsesibelas-kasih-kejam
Aroma Malam Itu, Cat Kuku yang Terkelupas

“Itu hanya salah paham. Sungguh, tidak terjadi apa-apa.”

Di meja sarapan. Dia meneguk sedikit Americano seraya berkata. Dalam gelas kaca, aroma tadi malam belum muncul. Udara di antara kami panas, tapi hembusan napasnya dingin. Di dinding dalam gelas di depanku, bekas lipstik yang belum sepenuhnya kering menetes merah. Warna yang bukan miliknya bertahan keras di bawah sinar pagi.


Aroma Malam Itu, Cat Kuku yang Terkelupas

Di meja samping ranjang, tersisa aroma kolang stroberi yang samar. Dua jam lalu, aroma itu milikku sepenuhnya. Dia melepas kunci sambil menata rambut, lalu berbisik pelan:

“Maaf, terlambat, ya?”

Pada kuku telunjuknya, cat warna-warni tipis terkelupas. Bagian transparan itu berkilau terang. Kuku yang selalu sempurna dilapisnya kini tergores. Di kepalaku, bayangan kuku itu menggaruk punggung seseorang berkelana liar.

Aku diam membuka ponsel. Layar kunci muncul di ujung jari gemetar. Baterai 7%. Notifikasi kosong.

Dia menutup kancing sweater satu per satu, bergumam:

“Mandi dulu, ya.”

Setiap kali pancuran berderak, kamar tidur makin berat oleh diam yang lembap. Aku menyelinapkan tangan ke balik seprai. Sesuatu menempel di jari: segenggam plastik hitam. Bungkus kondom bermerek asing. Plastik itu dingin.


Studi Kasus: 247 Hari Ji-woo

22 Maret, 03:47 dini hari

Ji-woo: Malam ini juga belum pulang? Min-jae: Masih kumpul sama senior. Sebentar lagi pulang Ji-woo: Kirim foto, ya 22 Maret, 03:49 dini hari Min-jae: Lagi rame bangetㅠ nanti aja 22 Maret, 03:55 dini hari Ji-woo: [permintaan foto dibatalkan] 22 Maret, 03:56 dini hari Min-jae: Maaf, beneran sibuk

Selama 247 hari Ji-woo tak pernah mematikan tanda ‘dibaca’ di chat Min-jae. Setiap tengah malam pukul tiga, dia memeriksa ponsel Min-jae, memastikan sidik jari salah di layar kunci. Kata ‘senior’ terus mengambang di puncak daftar chat. Di sampingnya, tulisan hijau ‘1 menit lalu’ terus berdenyut.

Ji-woo memblokir nama itu ketika Min-jae tidur, lalu membuka blokir lagi. Hari ke-247, Min-jae berkata:

“Aku memang terus bertemu senior itu.”

Dengan satu kalimat, 247 hari Ji-woo hancur seketika. Malam itu, Ji-woo mengaktifkan kembali tanda ‘dibaca’ di chat Min-jae. Lalu menekan ‘keluar dari ruang obrolan’.


Gerak Kecil dalam Diam

Mendengar pengakuan Min-jae, Ji-woo terdiam tiga puluh detik. Jari yang mencubit lengan baju Min-jae gemetar pelan. Min-jae menoleh, melepaskan genggamannya. Bunyi kancing baju yang ditutup kembali.

Kletak, kletak.

Ji-woo mendengar suara itu selama 247 hari, menjaga kebohongan Min-jae.

Setiap kita pernah menjaga dusta seseorang. Iya, memang tak terjadi apa-apa. Dengan satu kalimat itu kita menahan dunia yang mulai retak.


Kalimat Terakhir

Malam itu, barangkali hatumu masih membara. Namun seseorang harus menelan bara itu dengan diam yang dingin. Karena kebenaran sejati terlalu dingin untuk disentuh.

← Kembali