Saat Lilin Padam Ulang tahun keduapuluh duanya, Jisu menancapkan hanya satu lilin di atas kue.
- Ke depannya, berdua saja sudah cukup.
Satu kalimat itu masih terus saya ulang dalam kepala. Tiga detik api menjilat lilin, di dalamnya tumbuh pertanyaan tanpa jawab. “Kalau kita memang cukup berdua?” Api padam, kamar gelap gulita. Dalam gelap Jisu tertawa kecil, dan saya menancapkan tawa itu jauh ke dalam dada.
Suhu Pupil yang Kubuat Diam Ya, berdua cukup. Itu yang saya ucap, tapi saya ingin anak. Semakin saya bantah, bayangannya semakin jelas. Di kereta bawah tanah menuju kantor, saya membayangkan diri mendorong kereta bayi. Kalau itu saya, si bayi akan mirip siapa? Rahang tajam dari saya, tatapan dari Jisu.
Setiap kali pikiran itu muncul, seperti ada cap stempel di otak. Tabu. Jisu menuliskan kata itu di tubuhnya. Alarm menandakan waktu minum pil KB, dia lari di treadmill setiap hari agar tak bertambah gemuk. Mencegah kehamilan berarti seks masih terjadi di antara kami. Saya merasa lega, tapi juga merinding. Tubuhnya bukan pintu, tapi tembok pertahanan.
Buku Harian Jisu, atau Khayalan Saya
Selembar memo di kantor: catatan kelas kursus kreatif yang pernah diikuti Jisu. Tanya pengajar, jawab murid.
Pengajar: Situasi paling menakutkan?
Jisu: Habis dilahap orang lain sepenuhnya. Kalau punya bayi, hidup saya terpotong.
Pengajar: Kenapa?
Jisu: Seorang ibu lenyap. Perempuan bernama Jisu.
Saya memfotokopi kalimat itu, menyimpannya di ponsel. Kubaca tiap malam sebelum tidur. Apa itu Jisu yang bicara, atau perempuan lain di dalamnya. Apa saya takut kehilangan istri, atau yang saya inginkan sebenarnya ‘Jisu yang melahirkan’?
Suhu Tubuh yang Kami Sembunyikan
Hari pernikahan sepupu senior, di koridor gedung resepsi saya menggendong keponakan yang terus menangis. Jisu datang, mengambil bayi itu. Ia segera diam. Jisu mengecup ubun-ubunnya.
- Memang lucu. Tapi, tak usah punya pun tak apa.
Matanya benar-benar menatap bayi itu, tapi pandangannya berada di tempat lain: pada dirinya yang tak punya keberanian melahirkan, atau pada dunia yang memaksa melahirkan.
Malam itu, pertama kali kami menangis di atas ranjang. Jisu bersandar di dadaku, hendak berkata lalu berhenti.
“Aku tahu kamu menginginkannya. Tapi aku… aku lebih dulu…”
Saya tak melanjutkan. “Takut mati” atau “takut lenyap”. Ketakutannya sama.
Mengapa Kita Takut Punya Anak
Anak adalah bagian abadi. Kalau kau tiada, ia terus hidup. Karenanya melahirkan adalah pengulangan kematian diri sendiri. Kami tak ingin pengulangan itu. Jisu takut pada jejak abadi miliknya; saya takut pada abadi yang berasal darinya. Kami saling mencintai, tapi memutus rantai yang mengikat. Daripada anak, kami memelihara diam.
Lilin yang Masih Menyala
Hari ini pun Jisu menelan pil KB. Alarm berdering, ia meneguk air dari cangkir kecil. Saya membalikkan tubuh, menyalakan TV di ruang tamu. Jisu bertanya:
- Kamu pasti menyesal nanti, kan?
Saya diam. Orang-orang di layar tertawa. Di sana ada masa depan tanpa kami.
Jisu menutup botol pil sambil berkata:
- Tapi, untuk sekarang…
Ia tak menyelesaikan kalimat. Untuk sekarang tak memiliki lanjutan. Mungkin itu jawabannya. Di hadapan kami masih satu lilin menyala. Apakah kami padamkan bersama, atau biarkan kami memadamkan bara orang lain.
Seberapa lama kau bisa memeluk masa depan yang tak diinginkan orang yang kau cintai?