"Eh, Rp 150 ribu kan cukup ya" Kamar sepi, hanya dengkuran lampu dan helaan napas kami yang bersahut-sahutan. Di meja, sepotong pizza Hawaii layu masih tersisa. Ia berbicara lebih dulu. Mati-matian cuma Rp 150 ribu, aku? Tentu itu cuma lelucon. Begitulah seharusnya. Aku tertawa menjawab, tapi bola mataku menempel di bibirnya. Pandangannya melirik ke arah pintu. Kami sama-sama tahu: bisa jadi itu bukan canda. --- ## Kontrak tersembunyi di balik uang Mengapa harus Rp 150 ribu? Seratus dolar terlalu vulgar. Dua ribu rupiah jelas penghinaan. Rp 150 ribu pas: harga dua kopi americano, ongkos ojek bolak-balik. Angka yang berkata: yaudah, sekali-kali. Namun ini bukan sekadar nominal. Ini lembar soal. Tes yang bertanya: berapa harga dirimu? Dan diam-diam kita semua tergoda menjawabnya. > Berapa murahnya kau rela terjual? --- ## Malam Yuri dan Jaehyun Yuri, 27 tahun, akuntan fintech yang kerja larut malam. Jaehyun, pacarnya, selalu merasa bersalah melihat kelelahannya. Jumat malam, mereka makan pizza sambil nonton film. Hari ini, tim leader-ku ngomong aneh, ucap Yuri, sambil menggigit pizza. Apa katanya? Katanya, kira-kira aku bisa dijual apa. Tubuh? Atau waktu? Jaehyun tertangkap sebagai lelucon. Kau nanya harganya? Rp 150 ribu. Gila, kan? Tiba-tiba hening. Jaehyun meletakkan pizza. Terus kau jawab apa? Yuri menutup kotak pizza. Cuma ketawa. Tapi… rasanya aneh. Seolah aku memang sudah dijual begitu. Aneh? Iya, seperti… aku sudah terlanjur menjadi barang. --- ## Kisah kedua: Mina dan mantan cinta Mina, 31 tahun, bercerai delapan bulan. Mantan suami sering mengejeknya "murahan". Kini ia tak ingin memberi apa pun gratis. Kamis malam, mantan teman sekolah, Minsoo, chat: Pizza? Aku sendirian. Sekarang? Iya. Datang sebelum jam 10. Mina tiba di apartemen Minsoo 21.50. Ia menunggu di ambang, membawa kotak pizza. Rp 150 ribu. Aku yang bayar. Mina tersenyum menerima. Terus aku bayar apa? Minsoo tak menjawab, hanya melenggang masuk. Sambil melangkah, Mina berpikir: Apa ini? Membeli orang seharga satu pizza? Malam itu mereka makan dan bercinta. Minsoo tak berkata apa-apa. Mina juga. Tapi mereka tahu: Rp 150 ribu itu bukan sekadar harga makanan. --- ## Mengapa kita menetapkan harga? Psikolog menyebutnya ketidaknyamanan nilai: cemas saat merasa bayaran lebih rendah dari harga diri. Tapi ada kebalikannya. Kadang kita sengaja murah. Terlalu mahal tak laku. Terlalu tinggi tak ada yang berani. > Aku cuma Rp 150 ribu. Jadi siapa pun bisa memiliki. Apakah ini penghancuran diri, atau justru pelindung? Kita semua ada yang dijual: waktu, emosi, tubuh, jiwa. Hanya saja label harganya tak terlihat. Karenanya angka Rp 150 ribu terasa menggairahkan, diam-diam. Harga diriku terbuka. --- ## Setelah itu Yuri resign. Sehari sebelumnya, ia dapat SMS dari tim leader: Aku tak bilang Rp 150 ribu. Aku bilang Rp 1,5 miliar, tapi kau dengar Rp 150 ribu. Mina masih ketemu Minsoo sebulan. Saat putus, ia bertanya: Akhirnya aku harga berapa? Itu kau yang tentukan. --- ## Berapa harga dirimu sekarang? Mungkin kini kita duduk di atas sepotong pizza Rp 150 ribu. Seseorang bertanya: Cukup ini? Akankah kau menjawab, atau lebih memilih melupakan pertanyaannya? Saat ini, berapa tepatnya harga dirimu.
← Kembali