Sepintas pintu lift hendak menutup, Seonwoo menekan tombol dengan ujung jari. Sementara suara calon mempelai pria yang menawarkan tumpangan dari lantai bawah menghilang di anak tangga, ia menatap bayangannya di cermin.
‘Toh aku berhasil menghindar lagi. Sampai kapan?’ Bawah mantel cashmere warna kopi, gaun putih berenda yang tadi dirapikan gemetar di udara. Hari ini pun ia turun ke lobi parkir bawah tanah, bukan ke gedung resepsi. Gemetar yang diterima dari keluarga suami pindah langsung ke lututnya.
Yang Ia Sembunyikan Bukan Selaput Dara
Seonwoo, 29, masih ingat hari pertama membeli bra pesta. Pramuniaga berbisik, “Kan akan dilihat ibu mertua.” Sejak saat itu ia tahu: hadiah pertama pernikahan adalah menonton tanpa harapan sentuhan wanita asing. Ia berbaring di ranjang, menjentikkan jari ke tubuhnya sendiri. Rasanya lebih baik daripada seprai sutra yang kaku. Tapi kenapa jari sang suami—dalam bayangan pun—buat persendiannya pegal? Surat diagnosa dokter biasa saja: tidak ada keputihan, tidak ada kejang otot. Sejak itu ia lebih percaya pada kolom pencarian: "takut menikah", "jijik pada suami".
32 Tahun, Cha Eun-yeong. Ketakutan Pertua Setelah Dua Bulan Menikah
Eun-yeong menikah dua bulan lalu. Hingga ultimnya masih menandai buku Kebanggaan Seorang Perawan. Satu pesan "Aku tak bisa menunggu lebih lama" dari pacarnya membuatnya menyerah. Ketika pintu rumah mertua terbuka, ia tahu: masalahnya adalah bau. Aroma sweater rajutan ayah mertua, sisa kuah sayur di wastafel, bau toilet yang tak pernah disikat—semuanya menusuk hidung. Saat pertama menginap dua malam di rumah mertua, ia dibangunkon jam 3 pagi. Ia berharap ibu mertua berlalu, tapi lampu dapur menyala. Ia merem erat, satu tangan mencengkeram lengan suami. Suami mendengkur pulas. Ia berpikir: ‘Ini yang lebih menakutkan.’
41 Tahun, Kim Miri. Pernikahan yang Mati Tanpa Disadari
Miri bercerai setelah lima kali gagal bayi tabung. Saat itu juga di koridor rumah sakit suami mengulurkan tangan, tapi ia mundur. Bukan kedinginan gaun operasi. Sebelas tahun ini, wilayah yang dikuasai suami makin mengembang. Tutup kloset yang selalu dibuka, bau telur dadar kesukaan suami, seprai yang terserap aroma tubuhnya. Ia bukan lagi ½ dirinya, melainkan 0,1/2. Usai cerai, Miri datang sendiri ke klinik. Dokter bertanya, ‘Kalau hamil sulit, kenapa bercerai?’ Ia menjawab tanpa gemetar, ‘Bukan karena tak bisa hamil, tapi karena takut pada hubungan yang hanya bertahan jika ada kehamilan.’
Yang Kita Takuti Bukan Angka, Tapi Aturan
Selaput dara hanyalah segumpal jaringan. Tapi di depannya kaum perempuan membayangkan puluhan lembar kontrak: harus perawan untuk masuk pasar cinta, harus perawan agar mudah hidup dengan mertua, harus perawan agar bisa menikah lagi. Pernikahan seperti teka-teki Lego yang langsung mengubah semua potongan yang sudah disusun menjadi tak berguna.
‘Karena itu aku menghindari pernikahan. Bukan takut kehilangan perawanan, tapi takut menjadi perawan lagi.’
Kalimat Terakhir
Apakah kau takut menikah, ataukah kau takut menjadi ‘perawan’ lain yang tersembunyi di balik pernikahan?