Senam Jari Kaki yang Terlalu Kenal Pukul 07.30, tikar yoga terbentang di ruang tamu. Sepasang kaus kaki merah merayap pelan. Suara itu mengatur setiap kaitan jari kaki, setiap hembus napas. “Min-jae, lututnya ditekuk lagi, kata Ibu. Kalau kamu latihan sendiri bentuk kakinya akan aneh.” Aku membuka keran wastafel lalu menutupnya lagi. Napasnya yang berbau menggelitik hidung. Bisikan Min-jae tadi malam masih berputar di telingaku. Kali ini beda. Selama kamu di sini, aku tak akan turuti kata Ibu. Sepuluh tahun, aku mendengar kalimat itu berulang. Kini yang lebih cepat mati napasnya justru aku. --- ## Sendok yang Tertelan Di rak di atas kloset kamar mandi rumah kami masih tersisa botol obat milik mertuaku. Dua bulan lalu Min-jae sempat ingin mengambilnya, lalu menyerah dan meletakkannya kembali. Butiran putih di dalam botol cokelat pekat itu meluruhkan asam lambungnya — dan harga diriku. “Kalau hari ini kamu lupa obatnya bagaimana? Ibu sudah menyiapkannya pagi-pagi, itu kebiasaannya.” Aku mencelupkan sendok kuning ke dalam botol, lalu mengambilnya lagi. Gelora membakar lambung Min-jae seketika muncul. Lalu dia pasti akan tergantung padaku, bukan? --- ## Ciuman Sang Penyelamat Tahun ketiga pernikahan, mertuaku tiba-tiba ambruk karena hernia diskus. Min-jae bolak-balik ke rumah sakit semalaman. Sementara itu aku mencuci pakaian dalamnya dan, untuk pertama kali, memimpikan: Ini kesempatanku. Buat Min-jae benar-benar berada di pihakku. Di depan pintu ruang perawatan, aku berkata pada mertuaku untuk pertama kalinya. “Mulai sekarang Min-jae tanggung jawab saya. Ibu cukup istirahat.” Mertuaku mencengkeram tanganku. Kapalan di punggung tangannya menggaruk egoku. “Min-jae akhir-akhir ini makin pucat. Kau pastikan dia makan ya.” Sejak hari itu Min-jae makin pucat. Matanya makin kelam setiap kali menerima piring yang kutimbun. --- ## Gaun Pengantin Kedua Tahun ketujuh pernikahan. Min-jae memutuskan berhenti kerja. Tiap pagi pukul 07.30 mertuaku masih mengirim pesan: “Sayang, jangan lupa senam jari kaki. Ibu mimpi kakimu patah tadi malam.” Kuajak Min-jae ke kafe depan kantornya. “Kalau kamu tak lagi nuruti Ibu, bagaimana kalau kita tinggal berdua saja? Hanya kita berdua.” Min-jae meremas cangkir kertas yang sudah penyok. Suara kertas robek mengiris di antara kami. “Eun-seo, tanpa Ibu aku tak bisa apa-apa. Kalau Ibu tak bisa, aku juga tak bisa.” Malam itu aku memegang berkas cerai, lalu kembali mengoyakkannya. Belum tentu aku tak bisa menyelamatkan Min-jae — keangkuhan itu menahanku. --- ## Tali Kulit Ibu Malam natal lalu. Mertuaku datang mengenakan mantel kulit merah yang uratnya seolah meletup di pundaknya. Min-jae membuka satu per satu kancing mantel itu. Aku tercekat, seolah menyaksikan striptis untuk sang kekasih. “Min-jae, pijat leher Ibu dong. Hari ini dingin sekali, sirkulasi darahku terganggu.” Dengan gerakan yang sudah biasa Min-jae menekan leher belakang mertuaku. Sikapnya seperti bayi yang mencari puting ibunya. Tiba-tiba aku sadar: Yang kuselamatkan bukan Min-jae, melainkan aku yang kuduga diselamatkan olehnya. --- ## Penjaga Keangkuhan Malam itu Min-jae berkata lagi. “Aku berharap tak ada yang ingin menyelamatkanku. Tak bisakah kamu membiarkanku apa adanya?” Di balik selimut aku menggenggam tangannya. Dingin. Bukan, lebih tepatnya: tanpa suhu. Aku tak sanggup melepaskannya. Jika kutinggalkan, aku pun ikut lenyap. --- ## Pertanyaan Terakhir Apakah kamu juga takut, bahwa dalam keinginan menyelamatkan seseorang, akhirnya kamu kehilangan dirimu sendiri? Ketakutan bahwa alih-alih menyelamatkan Min-jae, aku malah menjadi ibunya sendiri, setiap malam mencekik tenggorokanku. Saat ini, Min-jae sedang berlatih senam jari kaki lagi. Mengikuti suara ibunya. Dan mungkin, alih-alih menyelamatkannya, aku sedang berusaha menyelamatkan diriku sendiri. > Mungkinkah hasratku untuk menyelamatkannya adalah cara paling licik untuk menyelamatkan diriku sendiri?
← Kembali