“Ini, saya yang traktir. Lain kali bawa saya ke tempat yang lebih mewah, ya.” Ia menyerahkan kartu hitam sambil tersenyum. Hidangan penutup masih mengebul, tapi jari yang menatap lembar tagihan sudah kasar. Bar anggur sepi di Hannam-dong, Seoul, pertemuan ketiga. Aku hanya meneguk satu kali dari botol 18 juta yang ia pesan.
Biaya Tersembunyi
Ia berkata, “Aku agak manja soal selera, tapi kamu pasti bisa maklumi, kan?”
Kalimat itu bukan soal kemewahan. Itu wajah yang sedang menilai berapa harga diriku. Seiring alkohol naik, kalkulator di kepala berputar. Pertemuan pertama di restoran sederhana, kedua di galeri tempat mantan pacarnya pernah mengajaknya. Hari ini. Lagu beruntun di mana tak jelas siapa yang sedang menguji siapa.
Bedah Nafsu
Mengapa uang menusuk seperti larangan suci? Bukan soal angka, melainkan mistar transparan yang bertanya, “Seberapa besar rela kau berkorban?” Masalahnya bukan jumlah, tapi urutan. Di pertemuan ketiga, belum juga bibir kami bertemu—hutang yang belum tahu caranya dilunasi.
Studi Kasus: Jian & Yuna
Kasus pertama — Jian, 31, Account Executive agency iklan
Jian bertemu Minsu di sebuah kopdar—pengusaha start-up yang mengenakan dasi longgar. Saat kencan ketiga, Minsu tersenyum menyebut biaya “kumpul tim” yang belum juga dibayar. “Udah lewat 70, ya. Jian-ssi, tolong tanggung segelas saja…”
Tengah malam itu, di bilik toilet, Jian mengumpat dalam hati. ‘Kenapa aku harus bayarin pesta kantormu?’ Namun jarinya, tanpa notifikasi, menekan transfer. Keesokan harinya, Minsu menghilang. Lenyap bersama tagihan adalah harga diri Jian.
Kasus kedua — Yuna, 29, desainer UX
Yuna melihat kartu Tae-woo tertolak saat kencan kedua. Di kencan ketiga ia pesan anggur yang lima puluh ribu lebih mahal. Ingin melihat wajah Tae-woo saat transaksi gagal. Tae-woo mengetuk ponselnya dengan canggung lalu mengeluarkan uang tunai. Yuna tersenyum menatap ekspresi habis terjual—lebih manis daripada anggur itu. Tae-woo lenyap, tapi Yuna masih mengingat rasa itu.
Mengapa Ini Sangat Menggairahkan
Sebenarnya kita menyaksikan kekuatan telanjang di hadapan uang. Siapa yang akan mengisi gelas sampai habis, siapa yang akan pura-pura tak tahu. Uang tiba-tiba memberikan papan skor pada percintaan. Di sana kita tahu siapa yang lebih terjerat.
Yang lebih gelap dari uang adalah kekangan. Bukan yang membayar, melainkan yang ingin menerima lalu membuka dompet buas. Seberapa jauh uang di tanganku bisa menggerakkanmu. Saat percobaan itu, kita menyimpan hasrat untuk menyakiti sedikit.
Kamu, di pihak mana?
Ketika ia berkata, “Selera aku mahal,” senyum apa yang kau sembunyikan di balik rasa tak nyaman? Tanpa tahu berapa yang harus dibayar kembali, apakah dompetmu masih siap terbuka? Ataukah kau sedang menumbuk diri sendiri seperti karung pasir demi tampak menarik di matanya?