“Sebulan. Tahan sebulan saja.” Kata yang terlontar dari bibirnya terdengar sedingin suara pintu kulkas yang tertutup. Begitu kalimat itu usai, Yuri langsung keluar dari grup KakaoTalk dan memblokir nomor pria itu. Seperti salam perpisahan hambar di sebuah pemakaman. Lalu, tepat hari ke-31, pukul 03.26 dini hari, telepon Yuri berdering.
Jurang yang Menganga
Layar menampilkan nomor asing, tapi Yuri tahu. Getaran itu. Ketakutan yang tercipta dari setiap hela napas. Ia ingin tak mengangkat, tapi jari sudah menekan tombol jawab.
“…Yuri?”
Suara Do-hyun—bertentangan dengan dugaan—tidak serak. Ia malah terlalu sadar, membuat cemas. Tak tercium bau alkohol. Yang ada hanya hening dingin yang menusuk.
“Masih kuingat kau, apakah itu membuatmu senang?”
Saat itulah, panggilan biasa berubah menjadi pengakuan luhur.
Kenapa Tak Lepas?
Sekadar sebulan. Waktu menyelesaikan satu buku. Atau coba-coba diet murahan. Mengapa rentang ini membuat manusia terpelintir?
Selama sebulan, Do-hyun menghafal rutinitas Yuri. Gerbong paling belakang kereta bawah tanah Jalur 2 saat berangkat kerja, salad bar dekat kantor untuk makan siang, sekaleng bir di minimarket depan rumah sekitar 20.45, lalu login Instagram terakhir di 00.34. Ia menjadikan semua itu peta hidupnya. Menjalani hari Yuri tanpa Yuri.
‘Apakah dia juga menghapusku? Atau masih ada setetes kenangan tersisa?’
Kasus: Tiga Tengah Malam, Satu Suara
1. Ji-an, 29, Perencana Iklan
Ji-an menerima telepon dari mantan setelah 47 hari. Tengah malam pula. Si lelaki hanya menyampaikan satu kalimat—terucap cepat seolah sudah dilatih.
“Baru kusadari, saat bersamamu aku merasa paling nyaman.”
Ji-an diam. Karena ucapan itu—jujur atau bohong—adalah pengakuan yang sama menusuknya. Sejak malam itu ia setel alarm pukul 03.00, menunggu panggilan. Dua minggu kemudian, ketika ponsel berdering lagi, Ji-an sudah berlatih mengucapkan kalimat yang persis sama.
2. Yuri dan Do-hyun, sekali lagi
Do-hyun menelpon Yuri lagi, tapi kali ini jam 12 siang—delapan hari usai panggilan pertama.
Yuri mengangkat.
“Selama kau tiada, aku tak pernah menyentuh alkohol.”
Bohong. Ia tetap minum. Tapi alkohol tak mampu turun ke tenggorokan tanpa bayangannya—itu benar.
Yuri menghela napas. “Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan sekarang?”
Do-hyun menjawab, “Coba sebulan lagi. Kali ini jangan diblokir—cuma diam, tak saling menghubungi. Boleh?”
Hasrat Menyantap Tabu
Kita tergoda panggilan dini hari bukan sekadar perasaan. Ini soal larangan. Saat seseorang berkata ‘jangan sekali-kali’, kita justru ingin membuktikan. Psikolog James Pennebaker menulis: kehilangan ikatan ibarat gejala putus obat—mengganggu sirkuit hadiah otak. Hubungan yang terputus malah jadi nikotin yang lebih kuat.
Karenanya, kontak terlarang memberi orgasme lebih dahsyat dari porno paling liar yang kau bayangkan.
Pengakuan Terakhir
Mari kita tanya: pernahkah kau melihatnya? Wajah yang tiga tahun lalu kau lukakan tiba-tiba muncul di kepalamu dini hari. Jari mengetik “sebentar saja, sekali ini” sambil menelusuri nomor.
Saat kau angkat, satu hal terang: ini bukan sisa cinta, melainkan ujung lidah hasrat yang belum selesai.
Jadi, apakah kau masih menunggu lidah itu datang menjilat? Ataukah mantra “jangan hubungi” yang kau lontarkan ternyata kutukan untuk dirimu sendiri?