Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

Malam Ini Mau Ngapain, Pertanyaan Itu yang Merenggut Kami

Pertanyaan sederhana yang mempertemukan suami-istri 7 tahun di tengah ranjang: "Malam ini mau ngapain?" Di baliknya tersembunyi hasrat dan kekosongan, hingga bara api kembali tersulut.

krisispernikahansindromrutinnegoisidiambibirhasratkamartidurpasutri

"Malam ini mau ngapain?" Di bawah lampu kuning Chanel, Minsu menutup pintu kaca mesin cuci seperti menutup rapat-rapat hari yang kelar. Tangannya terselip di saku celana pendek. Aku yang tengah mencuci muka menahan tangan berisi toner, lalu tersandung pada cermin. Tak terlihat apa-apa. Ah, pertanyaan ini. Hari yang sama, jam yang sama, suara datar yang sama. Dua kali seminggu, lelucon tak lucu ini menghancurkan kami.


Malam Ketika Ia Menghilang

Di samping ranjang, dudukan ponsel tak lagi memancarkan nama ‘Minsu’, hanya ‘Baterai 100%’. Awalnya aku masih menjawab. Nonton? Kuliner? Atau mungkin malam ini kita taburi cokelat di atas ranjang dan jadikan tempat tidur seperti taman bermain? Setiap kali Minsu hanya mengangkat satu alis. Itu saja? Alis itu menenggelamkan malam kami. Alis itu menyiksa: jadi, yang kau inginkan beneran itu? Akhirnya jawabannya selalu sama. "Pulang tidur saja." Minsu mengangguk, aku selesaikan gosok gigi dan masuk. Saat sakelar mati, kami mulai berlatih menoleh agar tak saling menyentuh. Dulu telapak tangan di punggung, kini hanya mengelus udara.


Beban Hasrat

Yang tersembunyi di balik pertanyaan itu bukan sekadar ‘kegiatan’. Kami tahu.

Apakah kau menginginkanku, atau hanya ingin mengisi kekosongan? Minsu tak menginginkanku, aku pun tak menginginkan Minsu. Kami menginginkan ‘sesuatu yang dilakukan’. Harus terisi. Kehampaan membuat gentar. Maka "malam ini mau ngapain" sejatinya adalah pengakuan yang terlambat: jadi, hari ini kau memang menyukaiku?


Jinhye, Seungjun, dan Jalur 2 Subway

Jinhye bertanya pada Seungjun. Kamis malam, anak-anak tinggal di daycare sampai tidur. "Malam ini mau ngapain?" Seungjun berhenti menggulir iklan Carrot Market; dia baru saja membeli skateboard bekas. Ketika ia menengadah, Jinhye sudah tahu ekspresi itu. Ya, kita harus melakukan sesuatu, tapi tak seorang pun tahu apa. Malam itu Jinhye membuka lalu menutup mata. Langit-langit kabur. Di sampingnya Seungjun mendengkur. Perlahan ia mengangkat selimut. Seporsi anggur di dapur. Seteguk, lalu teringat. Jalur 2 subway, seminggu lalu. Seorang pemuda bersandar di pagar. Pandang di balik masker hitam. Jinhye menelusuri mata itu, lalu menutup layar. Bersamaku malam ini, mau? Anggur menusuk ujung lidah. Panas tak dikenal naik. Ia tak kembali ke ranjang suaminya. Ia terbaring di sofa, membayangkan pandangan itu lagi. Lampu mati, dan buat pertama kali ia tak bertanya pada Minsu.


Mengapa Kita Terpikat

Psikolog menamakannya ‘fobia kekosongan’. Lekosongan yang harus diisi saat hanya ada dua orang di ruangan. Bertatapan di ruang hampa. Saat itu kita terbuka: ternyata bersamamu pun aku bosan. Pertanyaan itu sebuah tantangan. Satu kalimat menodongkan: ungkap hasratmu. Dan mengaku bahwa hasrat itu kosong. Maka pasutri memilih tidur. Tidur adalah satu-satunya sikap acuh yang bisa dipakai bersama.


Satu Kata Maaf

Minsu mengaku. Tadi malam, aku keluar ke ruang tamu. Duduk di karpet yang sudah akrab. Ia diam-diam membuka ponsel. Daftar Netflix menjulang. "Yang mana, ya?" tanyanya pelan. Aku merasanya menggenggam pergelanganku. Napasnya sedikit tersentak. Aku takut. Untuk memilih, atau untuk tidak memilih apa-apa.

Kami bahkan lupa cara memilih sesuatu bersama. Maka kujawab—atau berbisik—"Biar begini saja." Kami matikan TV, lampu ruang tamupun tak kami padamkan. Satu kata maaf. Itu saja. Namun kata itu menghangatkan kami. Dalam gelap, kami saling memandang untuk pertama kalinya. Tak melakukan apa-apa. Itu memulai sesuatu.


Belum Ada Jawaban

Hari ini juga Minsu mungkin bertanya. "Malam ini mau ngapain?" Aku masih tak akan segera menjawab. Beberapa detik—atau menit—aku diam, lalu mungkin kulurkan tangan di atas seprai. Menyentil ujung jari atau menutupi punggung tangan sepenuhnya. Aku belum tahu. Bagaimana denganmu? Di detik ini, jika ada seseorang di sisimu, jawaban apa yang sedang kausiapkan?

← Kembali