"Jari itu kenapa sampai di situ?"
Di dalam mobil. Mesin sudah mati, tapi udara masih mendidih. Junsu mengetuk-ngetuk karet gelangku sambil tersenyum. Sejak tadi sore, baru kali itu ia berbicara informal padaku. Karet itu terasa seperti akan putus, mengancam.
Apa artinya ini?
Sejam lalu di meja arisan, ia masih memanggilku "Manajer Kim". Bahasa formal, tatapan dingin. Tiba-tiba, ia menggenggam pergelanganku. Bagi siapa pun, itu seperti godaan kekasih. Tapi kilatan matanya selalu meredup di akhir, seolah berkata, ‘Aku sudah memberimu sebanyak ini, kan?’
Pura-pura cinta paling licik
"Semakin sering ia menyentuhku, aku semakin mengecil. Tersisa seujung jari saja."
Bahaya sejati adalah garis batas yang samar. Ia memang mengirim sinyal—sapuan di lengan, jemari menyingkap poni, tatapan yang meluncur. Tapi keesokan harinya di koridor kantor, ia hanya memberi salam sopan seolah semalam tiada apa-apa.
Ini bukan ghosting, ini seni membangun dinding untukmu. Hanya bagian yang tersentuh hidup; selebihnya mati rasa. Inilah "kelaparan sentuhan". Saat kau tahu bahwa untuk mendapat lebih, kau harus berpura-pura dingin.
Bahu Mi-yeon dan ujung jari Hyun-woo
Mi-yeon mencintai Hyun-woo, rekan satu tim selama tiga tahun. Hyun-woo hanya menepuk kepalanya. "Hei, kerja bagus hari ini," katanya, kadang di punggung tangan, kadang di pinggul—ringan.
Kalimat "Mi-yeon kita memang pintar" membuatnya bergetar seharian. Hingga suatu hari, Mi-yeon melihatnya menepuk kepala rekan wanita junior—sudut dan senyum sama persis. Ditambah, ia belikan kopi untuk junior itu, yang tak pernah untuk Mi-yeon.
Malamnya, Mi-yeon muntah di kamar mandi lama.
"Kukira aku spesial, ternyata hanya benda yang memberi reaksi yang disukainya."
Kenapa kita menyebut hinaan ini cinta?
Manusia candu ketidakpastian. Ingat sirkuit dopaminmu: hadiah acak memicu ledakan tiga kali lipat dibanding hadiah pasti. Sentuhan sekelebat itu seperti tuas mesin slot. Setiap tekananmu beri modal emosi Rp 300 ribu, kadang meledak Rp 1 juta—kau tambah modal lagi.
Ini juga paradoks rasa bersalah: Mungkin aku kurang menarik, sehingga ia tak yakin. Aku memang yang kurang.
Masihkah kau ragu, itu cinta atau ejekan?
Ketika ia menyentuhmu, apakah ia benar-benar melihat dirimu? Atau hanya menguji reaksi untuk membuktikan kekuatannya?
Dan kini, apakah kau masih menyiapkan kulitmu di titik yang akan disentuhnya?