Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

Mainan yang Tersisa di Ranjang: Rasa Selingkuh yang Tersembunyi

Setelah anak tertidur, boneka kupu-kupu merah muda di ranjang mengusik hasrat terlarang suami-istri. Pengakuan gelap pasutri 5 tahun.

pernikahanselingkuhhasratmainantabu
Mainan yang Tersisa di Ranjang: Rasa Selingkuh yang Tersembunyi

— Hup — “Mama, hari ini aku boleh tidur sama kupu-kupu, ya?” Anak laki-laki usia tiga tahun itu datang memeluk boneka kupu-kupu merah muda. Minji mengecup kepalanya sekilas, lalu melemparkan ke atas seprai. Setelah sang anak tertidur, ranjang terasa lapang. Kupu-kupu itu terlentang dengan sayap yang terlipat. Sementara Jae-woo mandi, Minji menggenggam boneka itu, dilepas, dipegang lagi. Tiba-tiba ia merasa siluetnya mirip pantat seorang wanita. Gila, pikiran macam apa ini.

Sayap yang Meredup

Sejak anak lahir, Minji menghindari hubungan intim selama tiga bulan. Bukannya depresi pascamelahirkan, juga bukan karena tubuh Jae-woo berubah. Hanya saja rasa ‘tertarik’ itu menghilang. Meski tubuhnya membesar dan payudaranya mengeluarkan ASI, Jae-woo tetap menginginkannya. Namun Minji hanya merasa canggung, mengingat puting yang sering disedot anaknya. Tapi kenapa hari ini, karena boneka ini? Pinggang kupu-kupu merah muda yang menggurat itu terasa seperti pinggang wanita yang memabukkan. Minji buru-buru memutar boneka itu. Tapi ubun-ubunnya sudah terasa panas.

“Kenapa aku terangsang karena ini?”


Bayang-bayang di Parkiran Bawah

Kasus nyata 1. ‘Seo-yeon’, 34 tahun, ibu dua anak Seo-yeon melihatnya pertama kali di parkiran bawah mal. Sambil menunggu anak yang tidur di kereta dorong, ia menggenggam boneka ‘kelinci’ yang tergelatak di jok belakang. Saat itu pula, seorang pria keluar dari lift menatap tajam kelinci di tangannya. Hentian 10 detik. Pria itu berkata, “Anak saya juga suka sekali kelinci itu,” sambil tak melepaskan pandang. Seo-yeon pura-pura tak tahu, tapi malam itu, untuk pertama kalinya kata ‘selingkuh’ melayang di benaknya. Kelinci itu tak pernah sekali pun berada di tangan suaminya.

Bau Karet Merah Muda

Kasus nyata 2. ‘Chae-won’, 28 tahun, pasangan kerja 3 tahun Setiap ke toko mainan untuk anak, Chae-won dan suaminya selalu mencari celah waktu. Suatu hari, Chae-won menyentuh ‘boneka beruang’ yang menurutnya akan disukai anaknya. Seorang pegawai mendekat dari belakang dan tangan mereka saling menyentuh. Cuma sekejap, tapi pipi Chae-won memerah. Malamnya, ketika suaminya tak lepas menatap boneka beruang itu, Chae-won berkata dalam hati:

“Kalau aku benar-benar berselingkuh, pasti ada alasannya.”


Mengapa Kita Menuruti Siluet Tabu

Setelah lima tahun menikah, muncul ‘gua’ bernama kita. Mainan anak, kereta dorong, botol susu. Semua bercampur dan menyerbu kamar tidur. Hasrat yang tersisih ke perbatasan justru menjadi lebih jelas. Mainan anak memang lambang ‘kesucian’, tapi saat kita menjaga kesucian itu, kita saling mengabaikan hasrat masing-masing. Maka suatu hari, siluet kupu-kupu merah muda tiba-tiba menusuk mata. Psikolog Schore berkata, “Pasangan yang merasa terangsang oleh barang anak-anak adalah reaksi terhadap ‘ketidakhadiran’.” Dengan kata lain, karena keberadaan anak yang membuat ranjang khusus berdua lenyap, kita mencari pengganti. Pengganti itu bisa jadi mainan yang bergoyang, atau jari tangan suami orang.

Belum Menemukan Jawaban

Malam ini pun Minji menidurkan anak lalu merebahkan diri. Jae-woo masih menonton berita di ruang keluarga. Kupu-kupu itu tetap di atas seprai. Pelan-pelan Minji menggenggamnya, memeluknya, lalu meletakkannya lagi. Tiba-tiba sebuah pertanyaan muncul:

“Apa yang sebenarnya aku inginkan: hubungan yang membara kembali, atau rasa bersalah yang akan kucuri dari orang lain?”


Jawabannya masih berkeliaran di kamar tidur.

← Kembali