— Aku juga tak tahu lagi. Meski kita bersama, kau tak ada. Begitu ucapanku selesai, Joo-hyeong otomatis melangkah mundur dengan tumit. Sebuah potongan Lego yang tergelincir di lantai kayu menusuk tumitnya, namun ia tak merasakan sakit. 12 tahun. 4.380 hari lamanya setiap pagi kami menumpuk kebiasaan seperti menara, dan suara ambruknya nyatanya tak terdengar di telinga. Begitu mulut istrinya, Eun-jin, terkatup, udara di rumah benar-benar mati. Bau plastik dari microwave yang terus berputar, bau sabun berbusa dari mesin cuci—semua bau serentak mengeras menjadi hening kuning. --- ## Bau samar di antara kita yang berdiri di tengah ruang tamu > Pernahkah aku ingin meninggalkanmu? Tidak. Yang kuingin tinggalkan adalah kekosonganmu. Hening bukanlah gumpalan tegang; sebaliknya. Ia keputusan yang kami ambil bersama. Mulai sekarang kita takkan berbicara. Sejak bibir kami mengatup, ruangan beresonansi seperti bunyi kaca bening. Walau setiap langkah terdengar seolah serpihan kaca hancur, nyatanya tak ada yang benar-benar pecah. Eun-jin, yang sedang mencuci piring, menjatuhkan sendok satu per satu. Joo-hyeong tak memungutnya. Air hangat mengalir di sela-sela, membasahi kaki kami. Tak ada bau apapun. --- ## Ekspedisi nafsu: mengapa kita mencintai kekosongan Pernikahan tampak seperti ritual untuk memastikan keberadaan satu sama lain. Namun tabu sejatinya adalah mencintai kekosongan yang selalu menempel pada keberadaan. Setelah 12 tahun, tubuh manusia menjadi biasa. Jarak yang tercapai saat tangan diulur, irama napas, lekuk tengkuk yang tampak dari balik bahu. Seiring kebiasaan, yang makin tajam justru adalah ruang kosong yang tercetak di tempat orang itu berada. Bukan membayangkan pasangan yang ada di depan mata. Khayal itu hanyalah fotokopi dari sesuatu yang telah terjadi. Mencintai ‘dirimu yang tanpa dirimu’. Menyimpan ‘dirimu yang tak terlihat di detik ini’. Itulah wujud nyata nafsu yang baru terbuka setelah 12 tahun pernikahan. --- ## Kisah yang terlalu nyata pertama: Joo-hyeong dan Eun-jin, dini hari 14 Maret Joo-hyeong terbangun pukul 03.17. Yang pertama kali terlihat bukan lampu LED di langit-langit, melainkan punggung Eun-jin yang muncul dari balik gelap. Ia duduk di sofa, menatap ke luar jendela. Begitu suara lemari es berderit, bahunya bergetar pelan. Joo-hyeong menyapukan telapak kaki di lantai dulu. Setiap langkah terasa berat dengan beban 12 tahun. Kenapa belum tidur? … Inin bicara? … Tak bisa tidur karena menyesal? … Tanpa jawaban, sehelai foto kecil terlepas dari genggam Eun-jin. Foto kencan pertama mereka 12 tahun lalu. Kedua wajah merah padam. Di balik foto, tulisan Eun-jin tak luntur: ‘Kalau kita sudah tua nanti, kita akan melihatnya lagi’. Membaca kalimat itu, Joo-hyeong baru tahu apa yang telah ia buang: nafsu ‘tidak ingin menjadi tua’. Nafsu ‘ingin terus dicintai tanpa menua’. Di detik ini, nafsu itu menari di atas foto. --- ## Kisah yang terlalu nyata kedua: monolog Eun-jin, sore 14 Maret Eun-jin memasuki ruang tamu pukul 13.24—146 menit pertama sejak pagi. Joo-hyeong ada di kamar. Jarak mereka: empat meter. Berdiri di ambang pintu, Eun-jin meraba daun pintu dengan telapak tangan. Apakah tempat inilah tempatku seharusnya? Ia memutar kunci. Kamar itu memang kosong. Hanya kaus Joo-hyeong di atas ranjang yang menjadi wakilnya. Eun-jin mengangkat kaus itu. Tak ada bau. Hanya bau deterjen. Ia menempelkan kaus ke hidung dan menghirup. Tetap tak ada bau. Setelah 12 tahun, bau Joo-hyeong yang tersimpan telah lenyap. > Aku terus mencintai dirimu yang tanpa dirimu. Dirimu yang hadir namun tiada. --- ## Mengapa kita terpikat: hasrat terhadap kekosongan Apa yang psikolog sebut ‘hasrat terhadap kekosongan’ sejatinya bukan upaya mengisi kekurangan kini. Ia adalah dorongan untuk menjaga kekurangan itu sendiri. Titik paling kejam yang dialami pasangan 12 tahun adalah: sambil menuntut keberadaan, mereka juga ingin menyimpan kekosongan. Permohonan agar jangan mengusik ruang kosongku. Dan pada saat bersamaan, permohonan agar justru mencintai ruang kosong itu. Karenanya kalimat yang dilontarkan Eun-jin bukan soal pilihan ganda. Ia esai. Bukan pertanyaan ‘bagaimana kita akan hidup selanjutnya’, melainkan ‘siapa dan bagaimana yang akan terus mencintai kekosongan’. --- ## Pertanyaan terakhir Selama 12 tahun tiada yang berubah karena tetap sama. Jika ada yang berubah, maka yang berubah adalah ruang hampa raksasa antara kita. Maka kutanya: alasan kumencintai dirimu yang tanpa dirimu, bukankah karena aku ingin menjadi ruang hampa itu?
2026-03-20
Kalimat yang Dilontarkan Istriku Setelah 12 Tahun: “Kau tak lagi di rumah ini”
Mengapa sepasang suami-istri 12 tahun diam seribu bahasa di tengah ruang tamu? Menelisik nafsu kejam yang justru mencintai kekosongan satu sama lain.
← Kembali