Malam saat nafasnya menjadi beling Tengah malam, jarum jam menunjukkan pukul 02.17. Minjae menatap punggil istrinya Jihyun, lalu dengan hati-hati meletakkan ujung jarinya di bahunya. Percobaan pertama dalam 20 bulan. Jihyun perlahan menoleh. Saat tangan Minjae gemetar, ia berkata dengan suara yang membatu. Baik, sekali saja. Tempat tidur bergetar pelan. Barangkali itu resonansi dari detak jantung Minjae yang baru saja menembus dada. --- ## Potongan-potongan nafsu > Mengapa harus "sekali"? Mengapa bukan hanya "baik", melainkan "baik, sekali saja"? Saat itu Minjae bukan hanya merasakan kekurangan seksual; ia lebih terpana karena baru saja menerima izin. Dinding tabu yang dipelihara selama 20 bulan runtuh, dan ia pun lebih terangsang oleh "izin" istrinya ketimbang tubuhnya sendiri. Ini salah, ini benar-benar salah. Namun Minjae sudah mencengkeram pergelangan tangan Jihyun yang kaku. Tatapannya masih setajam es. Tetapi di balik rasa dingin itu Minjae menumbuhkan nafsunya. Sebab akhirnya ia bukan memiliki tubuh istrinya, melainkan "izin"nya. ## Cerita yang terlalu nyata ### Kasus 1: Seungwoo dan Nayoung, serta sofa di ruang keluarga Seungwoo tak pernah melupakan hari ketika istrinya Nayoung—setelah 15 bulan—pertama kali berkata, "Sepertinya malam ini bisa." Itu pun terjadi sambil terlentang di sofa, dengan TV menyiarkan berita olahraga. Nayoung memejamkan mata: "Kecilkan suaranya, berisik." Seungwoo menurunkan volume dengan tangan gemetar. Di saat itu, tombol remote terasa lebih seksi daripada tubuh istrinya. Sebab itu adalah percobaan paling kecil Nayoung untuk tetap ‘mengarahkan’ dirinya. Ia kemudian berpikir: Aku mulai bersetak sejak menurunkan volume TV. ### Kasus 2: Dohyun dan Seoyeon, di depan kulkas Dohyun ingat betul hari ketika istrinya Seoyeon membuka pintu kulkas dan berkata: "Hei, malam ini... cepat saja, ya." Di tangan Seoyeon tergenggam kaleng bir dingin. Dohyun tercengang karena harus selesai sementara istrinya meneguk bir. Namun ia juga terangsang oleh kata cepat itu. Cepat—tetapi ia meminta sesuatu. Hari itu Dohyun keluar dalam tiga menit. Seoyeon meneguk bir dan meletakkan kalengnya. Wajahnya datar, namun Dohyun memandang setiap buih bir di bibirnya seolah trofi seksualnya sendiri. --- ## Mengapa kita terpikat pada ini? Hubungan yang mati rasa secara seksual penuh paradoks. Larangan memicu nafsu. Orang yang menolak selama 20 bulan akan menyerahkan tubuhnya lagi hanya untuk satu kali izin, sambil menanti penolakan berikutnya. Karena izin itu akan membuat penolakan berikutnya lebih pedih. Maka kita berpegang pada sekali itu. Psikolog menyebutnya penguatan intermiten—prinsip judi. "Sekali" dari istri membuat peluang berikutnya makin tak terduga, dan sang suami makin terbakar nafsu di balik ketidakpastian itu. Namun kebenaran yang lebih dalam: kita sebenarnya bukan menginginkan tubuhnya, melainkan takut kehilangan bahwa ia memilih kita. "Sekali" yang terucap setelah 20 bulan bukan pelukan, melainkan pernyataan: Aku masih melihatmu sebagai yang mungkin. ## Kapankah kau menunggu seorang berkata, "Baik, sekali saja"? Dan saat kau menerima sekali itu, apakah kau benar-benar menginginkan tubuhnya? Ataukah kau hanya ingin menikmati fakta bahwa ia mengizinkan dirimu masuk?
← Kembali