Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

23 Tahun Tanpa Ciuman, Beban Akting ‘Perempuan Baik-Baik’

Bagaimana akting ‘baik’ memakan perlahan percintaan kita, dan kenapa kita tak sanggup melepas topeng itu. Dua puluh tiga tahun bibir tak tersentuh.

sindrom perempuan baiktabu yang melekatbobot hubunganorang yang tak pernah berciumanmenekan hasrat

“Kukira malam ini benar-benar terjadi.” Ia menyingkap poni yang menutupi dahi. Ujung jarinya menyentuh helix telingaku—aku pun menahan napas. Di bawah neon EXIT bar, cahaya berkelap-kelap di antara kami. Setengah dua malam. Meja tinggal kami berdua. Ia berkata, “Luar dingin… mau ikut masuk?” Jantungku sudah menjadi kantong pasir. Jaket tebal, tutur kata yang kukikir rapi, serta jubah perempuan baik yang tak kasatmata menindih tubuh sekaligus.

  • Seandainya aku gila sekejap.

Namun aku menggeleng. “Ah, aku harus pulang cepat. Ada kerjaan subuh tadi.” Bohong. Satu-satunya tugas ‘subuh’ adalah bangun sebelum jam dua siang.


Bisikan Tagihan

Mengapa malam itu mataku terus berputar mengelilinginya? Aku ingin menahannya. Ingin meremas titik lehernya yang tertutup jenggot halus. Tapi kata-kata yang keluar selalu melenceng. Terlalu lama aku tergantung pada peran malaikat cinta pertama yang baik hati.

Kalau kuingat lagi, peran itu berarti:

  • Ciuman tabu di kencan pertama
  • ‘Aku suka kamu’ baru boleh diucapkan setelah ketiga kali bertemu
  • Alkohol maksimal satu botol, setengahnya harus tersisa

Aturan buatanku sendiri bertambah tak terhitung. Racun itu menumpuk di tubuh; begitu seseorang menghampiri, racun itu kuluirkan duluan. Maka, dua puluh tiga musim berlalu tanpa satu ciuman pun.


Jari Kaki Ha-yeon

Ha-yeon, 27 tahun, master tahun kedua. Bukit hariannya berbunyi:

‘3 Mei, perpustakaan kampus lantai 4. Jae-hyuk mendekat. Aku mengenakan karet rambut silikon di kedua lengan. Ia berkata, “Selepas begadang, mau ramen bareng?” Aku mengangguk. Jantungku berdetak meledak. Tapi di bus pulang aku mencengkeram ibu jari kaki sambil berbisik “tidak” ratusan kali. Sebab perempuan baik tak boleh makan ramen pukul dua pagi bersama lelaki.’

Sejak itu Jae-hyuk makin jarang chat. Suatu hari ia melihat mangkuk ramen menguap di tengah salju. Jae-hyuk dan perempuan lain saling menyuap pakai garpu yang berkilat. Adegan itu terpaku di kepala Ha-yeon seperti video loop.

‘Ini harga akting baikku.’


Kambing Hitam Min-seo

Lalu Min-seo, 30 tahun, AE di agensi desain. Ia menyimpan kisah yang menjadi rumor.

Tiga tahun lalu, di perjalanan Jeju bersama teman sekampus:

“Serius belum pernah ciuman?” “Serius.” “Hadeh, coba sekarang saja cium seseorang.”

Permainan minum. Min-seo dan ‘Hyun-woo’, teman semasa yang tak pernah dekat, terdorong ke kamar berdua. Lampu mati. Min-seo berlutut di ujung ranjang dan menangis.

“Aku ingin menjadi baik, atau aku hanya boneka yang pura-pura baik?”

Sambil menangis ia minta maaf pada Hyun-woo. Empat puluh menit kemudian ia kembali ke ruang utama, sendirian, mabuk. Tersenyum. Bola matanya merah, tapi tak ada yang bertanya.


Lingkaran yang Dibuat Akting Baik

Psikolog Masha McClusky menyebut bumerang nafsu ini ‘penjara kebaikan’. Semakin kita memasukkan diri ke dalam kotak ‘sangat baik’, semua sinyal seksual maupun emosional dari lawan harus kita abaikan. Namun pengabaian tak pernah lenyap. Ia berubah jadi bobot yang menekan bahu.

Kita takut. Jika lepas topeng, barangkali tersisa hanya ‘gumpalan nafsu’. Padahal rahasianya: nafsu itulah yang membuat kita manusia. Bukan karena tak bisa pacaran, tapi karena menjadikan pacaran sebagai larangan.


Siapa Mengunci Bibirku

Akting baik ternyata karya lemparan kalimat tak sengaja dari teman, keluarga, guru:

  • “Anakku pinter, tak pernah kacau gara-gara cowok.”
  • “Pacaran mah nanti di kampus, di tempat bagus pasti dapat yang lebih bagus.”

Setiap nasehat itu menambah gelang kunci. Gelang itu mengikat bibir hingga aku sendiri melemparkan kuncinya ke laut.


Ciuman yang Tergerus

Ciuman bukan sekadar sentuhan bibir. Ia menelan ketegangan dan kegembiraan yang muncul saat nafsu kita bertubrukan dengan nafsu mereka. Dua puluh tiga tahun tanpa ciuman, intinya adalah rasa takut: ‘Jangan-jangan aku memberi kegelisahan pada orang lain tanpa sadar.’

Ketakutan itu lalu menutup diri dengan kedok kebaikan. Kedok itu memberi isyarat diam: ‘Jika kau sentuh aku, aku bisa hancur.’


Akhirnya Tersisa Pertanyaan

Malam ini, tiba-tiba terlintas: seandainya saja di depan EXIT bar aku berkata, “Ayo masuk,” apakah dunia akan runtuh? Atau hanya ‘akting baik’ di dalam diriku yang ambruk?

Dan saat ini, akting baik apa yang sedang kau mainkan? Jika kau lepaskan, siapa dan nafsu apa yang akan muncul?

← Kembali