Nafas Pertama
— Ini tak boleh, ucap Junhyeok. Namun tangan sudah mencengkeram perut bawahnya. Lampu samping ranjang hanya satu. Tetes air dari kamar mandi terdengar. Junhyeok tak pernah pakai kondom seumur hidupnya yang ke-43. Hubungannya dengan istri Minjeong dimulai tahun ’99, saat kuliah. Waktu itu, saat berbulan madu, bahkan setelah anak lahir. Kontrasepsi urusan Minjeong. Kini, 12 Mei 2024, pukul 02.17 dini hari. Yujin, staf baru kantor, merangkak naik dengan lutut. Perempuan berbeda usia dua puluh tahun. Udara tanpa bau silikon, hanya daging dan nafas murni.
Perhitungan Tersembunyi
Mengapa Minjeong selama 20 tahun menolak kondom? Mengapa Junhyeok tak pernah menanyakannya? Mereka saling menghapus nafsu seperti kesalahan yang sama. Ditangani saja, kata Minjeong. Kalau hamil, kita lahirkan; kalau tidak, ya sudah. Masalahnya apa. Masalahnya ada di belakang itu. Kenikmatan bukan pada tubuh istri, melainkan pada menerima “keputusan”nya. Kelepasan karena melempar risiko ke tubuh orang lain. Junhyeok mengira itu cinta.
Kebenaran Simulasi
Kasus 1. Seungha, 38 tahun, apoteker
12 tahun tanpa kondom dengan suami. Ia mencatat hari subur di Excel. Hari paling subur, ia pura-pura sakit kepala tanpa alasan. Suami percaya itu kelelahan. Tahun lalu, sekali saja dengan pelatih kebugaran tetangga, Jungwoo. Ketika Jungwoo menyodorkan kondom, Seungha tertawa sambil berbalik. Aku tak akan hamil, atur saja. Mata Jungwoo bergetar. Seungha ingin meneguk detik itu: Saat aku mengendalikanmu.
Kasus 2. Doyoon, 45 tahun, pengacara
18 tahun dengan istri pakai pil, bukan kondom. Ia tak tahu nama pil yang istrinya telan. Pernah menelan satu butir yang jatuh di sela gelas wiski. Menjadi kebiasaan. Suatu hari, klien bernama Jiyeon bertanya di apartemen kantor, — Oppa pakai kondom? Doyoon tercenung; ia tak punya jawaban. Ketika Jiyeon mengambil kondom dari laci, tenggorokannya tiba-tiba tercekat. Ini bukan aku. Namun, begitu plastik hijau terkoyak, ia menyerahkan tubuh seperti terhipnotis.
Hukum Nafsu di Ujung Lorong
Mengapa kita makin ingin membuka tutupnya? Psikolog menyebutnya hilangnya kendali. Kenikmatan merusak apa yang telah dikendalikan 20 tahun, hanya dalam sehari. Atau sebaliknya, lega karena menyerahkan kendali pada orang lain. Kalau aku yang sakit, kau tak perlu tersentuh. Ucap istri terngiang. Junhyeok menamakannya cinta lagi.
Goncangan Kedua Puluh Satu Kali
Yujin mencengkeram dagu Junhyeok. — Senior, kalau tak suka, boleh pergi. Denyut di ujung jarinya. Junhyeok tahu 20 tahunnya terperangkap dalam detak itu. Tanpa satu kondom, gemetar yang tak dikenal sebanding tubuh istri. Sunyi makin tebal. Saat tubuh Yujin bersentuhan, Junhyeok pertama kali melupakan rasa. Kekosongan.
Ujung Cermin
Junhyeok membuka mata; Yujin lenyap. Tinggal satu bungkus hijau di atas meja. Kondom tak terpakai. Ia mengulurkan tangan. Membuka. Menelpon istri. — Minjeong, hari ini aku… Sebelum ia selesai, Minjeong tertawa. — Boleh, asal kau yang bertanggung jawab. Lama setelah telepon terputus, ia diam. Junhyeok masih tak tahu: pada siapa ia ingin meletakkan tanggung jawab itu.
Maukah kau melepas sabuk pengaman 20 tahunmu? Ataukah justru ingin menyerahkan sabuk itu pada seseorang?