Yeon-hee membuka kembali jendela obrolan KakaoTalk. Pesan terakhir yang dikirimnya: “Aku nonton film itu tadi, yang kamu rekomen” plus dua emoji tersenyum. Empat belas hari lalu. Sejak saat itu, hari-hari Yeon-hee bagai putar ulang.
Apa aku salah? Atau memang dia tak tertarik? Tapi tatapan kami di bar malam itu mengalir seperti listrik—itu nyata.
Cara Diamnya Membakar Diriku
Diam seorang pria pemalu berbeda. Bukan sikap acuh, melainkan rasa gatal seolah ia menulis lalu menghapus pesan berkali-kali, hingga akhirnya tak jadi mengirim. Rasa gatal itu membangkitkan imajinasi Yeon-hee.
Jangan-jangan dia terlalu suka padaku hingga tak sanggup bicara? Atau dia punya pacar dan sedang goyah karena perasaannya padaku?
Imaji-imaji itu mendorongnya ke ambang kegilaan, sekaligus membuatnya ketagihan bagai narkoba. Dalam sunyi sang lelaki, Yeon-hee men-ciptakan pria idamannya: penyayang namun sedikit labil, seolah dunia berhenti hanya untuknya.
47 Kali ‘Sedang Mengetik…’ milik Jae-hyuk
Jae-hyuk sungguh-sungguh mengetik 47 kali lalu membatalkan. Dari “Apa kabar?” hingga “Aku juga nonton film itu, gimana menurutmu?”.
Akhirnya ia hanya ingin mengirim emotikon “^오^” saja, tapi jari tak mau nurut.
Yeon-hee terlalu cantik baginya. Saat mereka bertemu di bar, sekali ia tersenyum sambil bertanya, “Kamu sering ke sini?” jantungnya nyaris meledak.
Sejak itu Jae-hyuk setiap hari bolak-balik ke profil KakaoTalk Yeon-hee. Foto profil barunya tampak baru saja diambil; rambutnya sedikit dipangkas.
Tapi kalau aku yang menghubungi duluan, aku jadi terlihat murah, kan? Dia bisa cepat bosan.
Menunggu yang Lain: Kisah Hye-jin
Hye-jin tak bisa tidur memikirkan Min-su, junior klub yang ia temui dua bulan lalu di kumpul-kumpul kantor. Saat itu Min-su duduk di sampingnya, diam-diam menyuapkan lauk setiap kali Hye-jin minum.
Ada kilatan mata. Tapi sejak itu Min-su tak pernah menyapa.
Hye-jin menelusuri Instagram-nya puluhan kali sehari. Bila ada story baru, ia melihat paling dulu lalu menonton lagi setengah jam kemudian.
Untuk foto anjingnya Min-su, ia tak berani beri hati. Kalau ku-like, aku kelewat berlebihan, ya.
Hingga akhirnya Hye-jin bertemu Min-su di pertemuan klub. Min-su malu-malu tersenyum, “Lama nggak ketemu, Unni.”
Satu kalimat itu membuat Hye-jin naik darah. Lama nggak ketemu? Kamu yang nggak pernah kontak!
Mengapa Kita Ketagihan pada Ketidakpastian?
Secara psikologis fenomena ini disebut nafsu terhadap kekosongan. Saat lawan bicara tak ada, kita mengisi kekosongan itu dengan fantasi pribadi. Fantasi itu lebih sempurna dari kenyataan, sehingga ketika bertemu langsung kita bisa kecewa.
Namun kekecewaan itu pun menjadi awal cerita baru.
Diam pria pemalu lebih kejam: mereka mengirim sinyal samar yang seolah ada, tapi tiada—tatapan bertemu, senyum tipis, atau kecil hati menyuapkan minum. Semuanya menjerumuskan kita ke dalam lubang dugaan tiada akhir: jangan-jangan hanya aku yang tak tahu?
Malam Terakhir Yeon-hee
Malam keempat belas, Yeon-hee akhirnya mengirim pesan pada Jae-hyuk:
“Aku nonton film itu lagi tadi, yang kamu rekomen. Kali ini sendirian, lebih kesepian ternyata.”
Lima menit, sepuluh menit, tiga puluh menit berlalu. Yeon-hee pergi ke kamar mandi tiga kali. Layar ponselnya ia matikan lalu nyalakan lagi.
Kemudian, pukul 23.47, balasan Jae-hyuk datang:
“Aku juga nonton lagi. Sendirian, jadi sedikit sedih.”
Yeon-hee membaca kalimat itu kira-kira dua puluh kali. Sendirian? Dia mikir sama sepertiku? Atau hanya menyesuaikan jawabannya?
Saat ini, apa yang paling ingin kamu pastikan: apakah dia sudah membalas, atau kenapa belum membalas?
Atau justru kamu pernah menghapus 47 kali “sedang mengetik…” tanpa berani mengirim sepatah kata pada seseorang?