00:47, dia berdiri di depan cermin. Begitu kamera dinyalakan dan kalimat pertama diucapkan, napasnya serasa tertahan—menyakitkan. Yujin, apakah kamu sedang menonton video ini? Aku sudah lama membohongi diri sendiri bahwa aku sudah melupakanmu. Tapi malam ini, aku tak sanggup berdusta lagi.
Obsesi yang Berpura-Pura Ditelan
Sebenarnya aku masih ingat, setiap kali kau tertawa, mata kirimu sedikit mengkerut.
Dia membuat video pengakuan cinta. Bukan sekadar pesan singkat. Diambil dengan kamera 4K, lampu disetel cermat, latar musik jazz lembut yang kau dulu suka. Seperti Youtuber, namun lebih sunyi, lebih gelap.
Mengapa harus video? Karena teks bisa dihapus, tapi video akan selamanya tersimpan di cloud-mu, entah di folder mana. Itulah yang dia inginkan—bekas abadi.
Studi Kasus Pertama: Junho, 11 Menit 23 Detik
Junho, 31 tahun, marketer perusahaan besar. Minggu lalu pukul 03:18 WIB, dia mengirim video kepada Minsŏ—mantan pacarnya. Durasi 11 menit 23 detik.
"Minsŏ, ulang tahunmu hari ini. Kau mungkin sudah ada yang kasih kue. Tapi aku hanya punya video ini untukmu."
Di layar, Junho menatap tajam seolah menembus lensa. Matanya merah berdarah. Bukan karena alkohol, tapi karena tangis.
"Kau pergi, tapi aku masih ingat saat kau datang ke kamarku menenggak bir. Ketika buih bir menempel di bibirmu, aku ingin menyapunya. Tapi aku tak berani. Hari itu jadi kali terakhir kita."
Video itu terbaca 47 detik setelah sampai di ponselnya. Tak ada balasan. Keesokan harinya, Minsŏ mengunggah foto dirinya dengan pria baru. Junho memperbesar foto itu, memeriksa lehernya. Tidak ada kalung yang dulu ia berikan.
Studi Kasus Kedua: Sujin, 3 Menit 45 Detik
Sujin, 28 tahun, desainer grafis. Ia mengirim video kepada Hyunwoo—mantannya. Singkat namun menusuk: 3 menit 45 detik.
"Hyunwoo, aku baru mengerti kenapa kau pergi. Aku terlalu banyak meminta—semuanya darimu. Pasti membuatmu sesak."
Di hadapan kamera, perlahan ia menanggalkan pakaian. Tinggal bra sehelai. Di antara payudaranya, tergores tato inisial pertama Hyunwoo.
"Tato ini aku buat untuk menghapusmu. Tapi kau masih di sini—selamanya."
Video terkirim, tapi Hyunwoo sudah memblokirnya. Centang biru muncul kurang dari satu menit, tapi Sujin tak tahu. Ia hanya percaya pada keberaniannya sendiri.
Mengapa Kita Terobsesi pada Masa Lalu?
Video untuk mantan sebenarnya pesan untuk diri kita sendiri. Ketika kita berkata "Aku masih mencintaimu", sejatinya kita berkata "Aku masih mencintai diriku saat itu—yang mencintaimu".
Secara psikologi, obsesi ini disebut "simbolisasi kehilangan". Bukan orangnya yang hilang, tapi diri kita dalam hubungan itu. Karena itu kita berusaha "mengembalikan" diri tersebut—dengan segala cara.
Cerita lebih gelapnya: video ini adalah alat kekuasaan. Menghantui sang mantan, menggoyang cinta barunya, membuktikan bahwa kita—masih—penting. Bukan sekadar pengakuan, tapi balas dendam yang terencana rapi.
Mereka Tahu
Junho tahu. Minsŏ mungkin menangis. Tapi air mata itu bukan karena rindu, melainkan karena teringat masa lalu yang sangat dia benci.
Sujin juga tahu. Hyunwoo akan jijik melihat tato itu. Tapi justru rasa jijik itulah yang ia inginkan—setidaknya perasaan itu lahir darinya.
Setelah video terkirim, mereka merasa lega. Luka lama seolah tergaruk habis. Tapi luka itu segera berdarah kembali, lebih dalam, lebih perih.
Sekarang, Aku Bertanya Padamu
Pernahkah kau ingin mengirim video padanya—atau padamu?
Pernahkah kau membayangkan dirimu menangis di layar, berbisik "aku mencintaimu"?
Dan di detik itu, kau sadar bukan dirinya yang kau inginkan kembali. Yang kau inginkan hanya satu: agar ia mengingatmu—dan dalam ingatannya, kau tetap istimewa.
Karenanya aku bertanya: Video yang hendak kau kirim itu, pengakuan cinta atau ritual membangkitkan mayat cinta untuk membunuhnya sekali lagi?