Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

Ketika Kata ‘Pacar’ Mencekik Tenggorokan

Setiap kali memanggilnya, sesak mendera di ulu hati. Saat nama ‘pacar’—lebih berat dari cinta—mengurung kita, kita justru terpana pada rasa sesak itu.

rasa memilikirasa sesakbeban namabatasan hubungan

“Pacar.” Begitu ia melafalkannya, gelas di tanganku bergetar pelan. Tiga suku kata itu menyebar di ruangan seperti sesuatu yang tak ingin ku dengar. Seperti kemeja berkancing salah, kata itu tidak pas di tubuh. “Kamu juga harus memanggilku begitu, ya?” katanya. Pupilnya berbinar gemetar. Aku menutup mulut. 20.47, ruang tamu apartemennya. Dingin AC menyap wajah seperti belati. --- ## Nametag yang Mencekik Pacar. Adakah panggilan lain yang lebih waspada di dunia ini? Sahabat, kekasih, partner, cinta. Tak satu pun menelan udara seenak kata ini. Mengapa? Karena di dalamnya terperangkap rasa memiliki. Per-empuan-teman. Cukup tambah satu kata di depan, satu di belakang. Namun di antaranya terselip lautan aturan tak tertulis. ‘Kau milikku’, ‘tanpa izin jangan melirik lain’, ‘bahkan soal celana dalam pun perlu dibicarakan’. Maka setiap kali terucap, sesuatu di dadaku melonjak. Saat kukatakan aku mencintai, kata itu justru yang terlebih dulu melompat. Kata pacar menjadi beban lebih berat dari cinta; menjadi beban, sekaligus gairah misterius yang menusuk. --- ## Mina, mengapa ia pergi Mina, setiap malam, memastikan namanya. “Aku pacarmu, kan?” pelan di ujung bantal, namun jelas. Jika kujawab benar, ia menghela napas layaknya anak usai ujian, bahu merosot. Keesokan pagi, ia bertanya lagi. “Aku pacarmu, kan?” Kujawab lagi, “Iya.” Tapi ia tak pernah puas. Matanya menerobos, bertanya apakah aku benar, atau justru memanggil orang lain ‘pacar’. Hingga suatu hari Mina berkata: “Aku benci kata ‘pacar’. Saat kau ucapkan, aku merasa menciut, seperti barang.” Aku pejam, lalu buka mata. “Kalau begitu harus kusebut apa?” Ia diam. Tak ada jawaban. Sejak hari itu Mina menghindarku. Di kantor, seseborg bertanya, “Pacarmu kemana?” Kubalas, “Dia pergi.” Lalu kusingkirkan rasa terkejut: ternyata kata itu terasa lebih ringan. --- ## Soyeon yang tetap tinggal Soyeon justru menyukai panggilan itu. “Boleh panggil aku pacar,” katanya sambil tersenyum. Tapi ia sama-sama waspada. “Kalau kau bilang aku pacar, kau bebas bertemu orang lain. Tapi saat itu terjadi, pilihlah salah satu.” Jantungku berdebar. Kebebasan yang diperas dengan izin dan larangan. Kami membuat aturan: ada waktu khusus untuk curhat tulus. Saat itulah kata pacar terasa madu di lidah. Mungkin karena kami sudah siap untuk berpisah. “Aku pacarmu, kan?” “Iya.” Setiap jawaban membuat kami menancap lebih dalam, sekaligus menghitung mundur hari perpisahan. Soyeon selalu berkata, “Suatu saat pasti berakhir. Tapi untuk sekarang, aku suka dipanggil pacar.” Matanya berkilat. Wajah yang tahu ujungnya, namun tak rela melewatkan kejut saat nametag disematkan. --- ## Nafsu tersembunyi di balik nama Psikolog berkata: manusia terus mencari label luar untuk memastikan identitas. Tapi label itu juga sangkar yang memenjara kita. Kata pacar pun demikian. Ia memadukan dua nafsu: > Pertama, ingin memastikan bahwa yang di sana adalah milikku. > Kedua, ingin begitu, namun tak rela melepaskan kebebasan. Maka kita bermain tali-tarik. Kami beri nametag, lalu pegang erat karena khawatir putus. Karena takut ia pergi, kami ikat lebih kencang—dan sesak menjalar. Kata pacar adalah resleting yang mengekang napas. Menyelipkan resleting berarti ‘kami istimewa’, sekaligus ‘kami tak lagi terbuka untuk siapa pun’. Ketakutan itu lalu berubah gairah. Ruang yang mencekik, tapi tak ingin kutinggalkan. Itulah namanya pacar. --- ## Pesan Mina yang kembali Beberapa hari lalu, Mina mengirim chat. ‘Lagi-lagi aku memikirkan kita. Dulu, kata pacar adalah yang paling kutakuti. Tapi setelah lewat, justru itu yang kurindukan.’ Tak kujawab. Aku menatap jendela. Kata pacar seolah melayang di udara. Menangkapnya licin, melepaskannya lepas. Mungkin sebab itu kita menyukai aturan, sekaligus terperangkap di dalamnya. Kata pacar—apa rasanya ketika kau ucapkan? Manis yang membuat napas tertahan, atau kebebasan pahit di ujung lidah. --- > Maka, saat kau memanggilnya, yang kau mau sebenarnya adalah namanya, atau justru kehampaan di balik nama yang tak terucapkan?

← Kembali