"Kamu telat banget, jadi tidur barean terasa wajar katanya." Saat Yuri melontarkan kalimat itu, aku masih mencium bau dia di ujung jari. Seharian kubasuh, tetap saja aroma Taeyun melekat. Pacar sahabatku, orang yang seharusnya kutinggalkan. Tapi Yuri tersenyum, bilang terlambat, jadi tidur sebangku wajar.
Kail pertama yang dilontarkan
Pengkhianatan datang seperti pisau cahaya tanpa peringatan. Yuri curhat duluan. Taeyun berubah, menghindari ponsel, ranjang mulai dingin. Matanya berkaca. "Dari sudut pandang cowok, jujur, kasih tahu dong." Aku langsung teringat tangan Taeyun di pinggangku. Minggu lalu, setelah kumpul kantor, kami berdua tersesat menuju kosnya. Yuri sudah pulang, tinggal kami berdua. Dia menawarkan bir, aku menenggak. Kenangan terakhir: bayang-bayang kami menyatu di dinding.
"Ini salah, ini benar-benar salah" bisikku pada diri, tapi semuanya terlambat. Napasnya menggelitik tengkukku, dan aku membayangkan nafsu, bukan wajah Yuri.
Kenapa kita melakukannya
Psikolog menyebutnya arousal tabu. Sesuatu jadi lebih manis karena milik orang lain. Pacar sahabat ibarat kristal larangan sosial: semakin besar tanda "DILARANG", kita makin gali dalam.
Taeyun bukan sekadar pria. Dialah yang selalu mendengarkan cerita Yuri, protagonis roman yang kami rawat bersama. Lewat dia, aku bisa memiliki sebagian dari Yuri: kenikmatan yang dia rasakan, suhu cinta yang dia terima. Aku ingin membuktikannya dengan tangan sendiri sampai hampir gila.
Cara menyembunyikan kenyataan
Sebulan penuh, kita ciptakan segitiga yang seimbang. Taeyun tetap pacar Yuri, aku tetap sahabatnya. Cuma, setiap celah, aku mencium aroma Yuri di seprai: parfumnya, sampo, bau kulit yang kukenal.
Suatu malam Yuri menelpon menangis, curiga Taeyun punya wanita lain. Aku menenangkannya, lalu sms Taeyun: "Malam ini jangan. Yuri curiga."
Saat itu aku sadari: rahasia kami bukan sekadar perselingkuhan. Ini perburuan. Yuri pemburu yang melempar umpan, aku binatang yang memamerkan taring.
Bukti bahwa dia tahu
Dua bulan kemudian, Yuri berbisik pelan: "Aku pernah lihat. Kalian berdua." Jantungku berhenti. Tapi dia lanjut: "Tapi… aku malah terangsang. Melihat dia menyentuhmu."
Matanya berkilat. Kami saling menatap, lalu tertawa. Ya, makanya kita tetap sahabat: binatang yang tumbuh dalam kegelapan yang sama, mengenali insting busuk satu sama lain.
Akhir kami semua
Taeyun akhirnya pergi dari kami berdua. "Ini terlalu rumit." Dia tak sanggup menampung kegelapan kami. Tapi kita justru saling mencengkeram lebih erat. Tak ada rahasia lagi.
Kami masih mengingatnya. Cara tangan Taeyun menjelajahi kami, posisi di antara kami. Lalu kami menyentuh satu sama lain. "Ini gara-gara Taeyun," kata kami. Tapi kita tahu.
Yang kami inginkan bukan cinta, tapi bukti nafsu. Saat merampas milik orang, barulah kita merasa ada. Itulah hawa paling mematikan manusia.
Apakah kamu juga begitu?
Saat ini, sedangkah kamu menginginkan sesuatu yang punya orang lain? Pacar teman, kesuksesan rekan, atau sekadar kebahagiaan yang dipunya orang? Lalu menutupi nafsu itu dengan "kebetulan" atau "salah mabuk"?
Dalam pengkhianat selalu ada dua pelaku: satu yang melakukan, satu yang diam-diam menginginkan.