Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

Ujung Jarimu Tak Paling Dahulu Menyentuh Dirimu

Saat tangan kekasih lebih dulu hinggap di barang yang bukan milikmu, apakah itu tanda ia mencari celah lama di hatimu?

pacarcemburupsikologi hubungansentuhancelah
Ujung Jarimu Tak Paling Dahulu Menyentuh Dirimu

“Ini punyamu?” Barang yang paling dulu disentuhnya

“Ini punyamu?” tanya Jisoo sambil menggenggam tali sepatu olahraga yang usang.

Saat itu Junhyeok tercenung. Tangan gadis itu tak lebih dulu menyentuh ujung kakinya, melainkan sepatu pria yang tergolek di rumah. Kata ‘sepatu pria’ menjalar seperti bara di kepalanya. Sepatu itu bukan milik Junhyeok, juga bukan milik Jisoo.


Nafsu bermula dari ujung kaki, jantung baru berdegup kemudian

Junhyeok baru tahu: sorotan kasih tak selalu menuju kekasih. Tempat mata sang gadis hinggap, tempat ujung jarinya melintas, kadang melingkar menjadi ‘titik ketiga’ yang melanglang dari keduanya. Titik itu bisa jadi satu-satunya celah yang kau miliki—atau yang kau hilangkan. Di hadapan celah itulah tatapan kekasipun berhenti seolah naluriah. Sebab? Mungkin di sana tersisa bekas seseorang yang bukan dirimu.


Kisah nyata 1: Kacamata Minjae

Minjae mulai tinggal bersama Hyejin, pacarnya selama enam tahun. Malam pertama, Hyejin mengangkat kacamata Minjae di atas meja ruang tamu. Ia tak menyentuh ujung hidung kekasihnya yang memakai kacamata itu. Sebaliknya, ia mengusap-usap lengan kacamata perlahan. Bagian yang sedikit penyok, bekas tangan orang lain. Minjae melihat kilauan mata Hyejin sedikit bergetar. Bibirnya terkatup, namun dalam hati ia bertanya, ‘Ini hadiah siapa?’

Minjae tak bisa menjawab. Kacamata itu hadiah mantan pacarnya. Sejak hari itu, Hyejin sesekali memegang kacamata Minjae. Bagian yang rusak, cat yang mengelupas. Tangan gadis itu tak lagi di pipi Minjae, melainkan di atas bekas kenangan masa lalu. Minjae baru sadar: yang disentuhnya bukan kacamata, melainkan jendela untuk menelusuri masa lalu Minjae.


Kisah nyata 2: Syal Sujin

Sujin pergi berlibur akhir pekan pertama bersama Dongho, pacar barunya. Begitu tiba di penginapan, Dongho mengeluarkan syal hitam dari tasnya. Sujin menatap syal itu lama. Lalu ia perlahan mengurai sehelai benang kecil yang kusut di ujung syal. Dongho merasa canggung dan berkata, “Eh, itu… aku beli dulu waktu lalu.”

Sujin hanya tersenyum. Di ujung syal tampak huruf ‘S’. Namun inisial Dongho adalah ‘D’. Sujin mengikat kembali benang itu dengan hati-hati. ‘Di mana pun tangan kekasih menyentuh, selalu ada nama orang lain tergores’.


Mengapa kecemburuan terasa panas?

Para psikolog berkata: tempat tangan kekasih hinggap sesungguhnya adalah pantulan rasa takut. Karena gelisah akan jejak orang lain yang bukan kita, tangan kekasih pun tergesa menuju ke sana. Maka sentuhannya terasa panas. Panas yang bernama kecemburuan. Kita menyangka itu cinta. Padahal bukan cinta, melainkan ketakutan bahwa cinta akan lenyap. Tempat tangan kekasipun berhenti pada sisi lain dari keyakinan—tempat mungkin masih tersisa bekas orang lain. Maka kita memperhatikan: siapa jejaknya, seberapa dalam bekasnya.


Tanganmu yang kembali tanpa tangan

Malam itu, setelah Jisoo tertidur, Junhyeok pelan membuka rak sepatu. Sepatu itu masih di sana. Ia mengambilnya dan melemparkannya keluar jendela. Namun tiada yang lenyap. Tangan Jisoo masih terasa di tempat sepatu itu berada. Sentuhannya tak pernah sirna.


Pertanyaan terakhir

Apakah tempat tangan gadis itu berhenti memang bekas orang lain, ataukah celah dirimu yang kau sembunyikan?

← Kembali