Lab Relasi Psikologi Cinta & Hubungan

Setelah Pesan Terakhir, Hukuman yang Tak Diucapkan Siapa Pun

Sudah tiga pekan grup chat mati. Kau berdoa agar diam itu diputuskan, tapi kenapa notifikasi masih kau biarkan berdering?

akhir cinta di udarakuasa diamkata yang tertahanchat kosongjerat penyesalan
Setelah Pesan Terakhir, Hukuman yang Tak Diucapkan Siapa Pun

"Ah, kasar sekali." Pukul 14.14. Satu baris biru cerah masih tergantung di layar. Jisu menekan gelembung itu dua kali lalu mematikan lalu menghidupkan kembali ponselnya. Status: terbaca, tak dibalas. Menit pertama, menit ke lima, hari ke tiga. Andai saja dia minta maaf duluan. Cukup satu baris: "Maaf, aku kelewatan tadi." Itu saja sudah cukup. Tapi warna biru mengeras seperti stempel, tak ada kata baru yang menancap di atasnya.


Nafas Terpendam, Hasrat Terpendam Diam tak pernah adil. Ada yang menunggu dengan urat leher menonjol, ada yang melahap waktu sambil berlenggang. Jantung Jisu adalah timer bisu, membelah detik demi detik menebak reaksi lawan. "Dia lagi apa ya?" "Cuma aku yang terluka begini?" Tanya itu merasuk hingga sum-sum. Semakin lama hening, kerinduan terbelah seperti atom. - Obsesi: siapa duluan menulis berarti kalah. - Ilusi: pasti dia juga kesakitan. - Realita: tetap tak ada yang bergerak. Neraka ini akhirnya panggung tunggal. Penonton kosong, lampu padam.


Kafe Lantai Dua, ‘Sunyi’ Musim dingin lalu, Suhyeon tiga jam lamanya mengobrol dengan pria bernama Jaekhyuk di sini. Kata ‘cinta di udara’ tak pernah terucap, tapi jumlah sentuhan ujung jari sudah lewat ambang. Ia tersenyum: "Besok ketemu lagi ya?" Suhyeon langsung menekan ‘like’. Tapi besok tak datang, lusa libur panjang, dan grup chat tetap sepi sampai lebaran usai. Beberapa hari kemudian, ia melihat foto profil Jaekhyuk berganti: dirinya bersama perempuan lain di lokasi wisata. Tapi Suhyeon bertanya pada diri sendiri: > Kalau aku chat duluan, apakah putusnya jadi pasti? Jari gemetar di atas keyboard, tapi tak pernah menekan kirim. Sejak itu tersisa angka: "1 belum dibaca".


Warnet Lantai Satu, ‘Focus’ Minjae menutup jendela chat sambil main game. Tiga puluh menit lalu, ia bertengkar hebat dengan Harin: "Sampe sejauh mana niat lo?" Minjae menjawab santai: "Ya pacaran biasa aja," dan Harin melontar: "Jadi gue cuma hobi lo?" Karakter di layar mati meledak, Minjae melepas headset. Kalau dia minta maaf, masih bisa lanjut. Tapi Harin mengganti nama profil—tinggal simbol "✩"—lalu menghapus namanya. Minjae mencari dan menekan ‘tambah teman’, hanya menemui tulisan: akun privat. Sejak itu ia jadi pelanggan warnet, tapi tak pernah lagi melihat Harin.


Nikmat yang Diberi Diam Mengapa kita sengaja meracik penderitaan ini? Sebab neraka ini menguar aroma manis. Menunggu seseorang berarti masih ada asa. Mitos: "Belum berakhir," disertai keyakinan bahwa dia juga menderita. Keyakinan itulah yang membuat kita termangu. Para psikolog menyebutnya ‘pertukaran kekuasaan diam’. Tergantung siapa berbicara duluan, posisi naik atau turun. Kita menahan napas. Takut kalah menurut teori permainan jika buka mulut lebih dulu.


03.07 dini hari Jisu menghidupkan layar lagi. Baterai 14%. Di puncak KakaoTalk tertera: "sedang mengetik…" sekejap lalu lenyap. Dadanya tersedak. Salah pahatankah aku? Ia mengetuk keyboard: ‘maaf’. ‘sekarang’. ‘kangen’. Puluhan kali dihapus. Akhirnya layar dimatikan, ia masuk ke selimut. Ia menutup mata, berharap lawan juga terjaga. Diam tumbuh di atas kepasrahan seseorang, dan dipupuk oleh penantian orang lain.


Entah kau siapa, tapi entah kau siapa, tapi sedang membaca ini—di ponselmu ada paling tidak satu chat berstatus ‘dibaca belum dibalas’. Dan saat ini kau masih menunggu pemiliknya. Atau mungkin justru kau yang ditunggu. Maka, apakah kau sedang mengubah malam seseorang menjadi neraka? Ataukah kau yang memegang kunci neraka itu dari orang lain. Kini, siapa yang harus memecah hening? Atau, benarkah kau ingin memecahnya?

← Kembali