SMS pertamanya [Malam ini aku pulang larut. Mia menangis terus jadi aku akan menginap di sana.] Tanda titik-titik di ujung kalimat itu meninggalkan firasat mencekam. Mia adalah junior kuliah yang kami kenal bersama. Belakangan ia tengah proses perceraian dan sering minum sambil menangis. Sepanjang malam aku duduk di ruang tamu yang lampunya mati, mengelus piyama milik istriku sambil berpikir. ‘Mengapa tidur di rumah teman bisa bikin cemas begini?’
Satu gelas susu yang tertinggal di kulkas Jam tujuh pagi, pintu depan terbuka pelan. Ia berusaha tak membangunkanku, melangkah perlahan. Terdengar suara gelas kaca dan pintu kulkas. Tiba-tara suara plastik yang terseret. Ia membuka keju kraft yang terbungkus. Kututup mata rapat-rapat dan menganggarkan telinga. Ia menuang susu ke dalam gelas, meneguk sedikit, lalu meletakkannya di sink. Tak ada suara air mengalir. Tiba-tiba ia melipat kemasan keju. Lalu pintu depan tertutup lagi. Saat itulah kusadari. ‘Ia akhirnya tak mencuci gelasnya pula.’ Kalimat “akhir sebuah pernikahan dimulai saat seseorang berhenti mencuci piring” tiba-tiba terlintas di kepala.
Kisah pasangan kedua: Hyunwoo dan Sujin Hyunwoo menulis di forum anonim begini:
Aku sudah terbiasa istriku menginap di rumah teman. Awalnya alasannya “makan malam kantor”, lalu “membersihkan kosan teman”, dan tadi malam “salju tiba-tiba turun jadi tak ada taksi”.
Sujin kini bertemu teman-teman baru yang tak kukenal. Lagu yang ia nyanyikan saat mandi, warna lipstik barunya, bahkan tato kecil di punggung tangannya terasa asing.
Namun aku tak sanggup bertanya “mengapa”. Sebab jawabannya sudah jelas: “Aku hanya sedikit lelah.”
Estetika kebohongan Kita memilih ‘kebohongan’ bernama “menginap di rumah teman”. Bukan sekadar pelarian, melainkan sopan santun untuk tetap menjaga relasi yang sebenarnya sudah usai. Sebuah kebaikan agar tak jadi beban bagi pasangan. Aku melihat bulu mata Sujin berkelompok kusut pekan lalu. Ia pulang jam dua pagi, membuka pintu dan terduduk di lantai ruang tamu. Hyunwoo dari kamar menahan napas mengintip. Sujin mengambil lipstik dari tas, menepuknya di bibir. Lalu menatap wajahnya di cermin sambil berbisik. ‘Tidak apa, kita belum selesai.’
Sunyi di balik pintu yang terkunci Pernikahan runtuh tanpa suara ada dua caranya. Pertama, dengan menumpahkan kemarahan. Kedua, tanpa menumpahkan apa-apa. Istriku memilih yang kedua. Ia tak memarahi. Ia memilih menghabiskan malam ber-salju di rumah Mia. Entah saat aku tidur, ia menenggak soju di warung tenda bersama Mia. Mungkin mabuk dan meluap: “Ayo pulang, sudah cukup.” Namun begitu fajar menjelang, ia kembali menjadi istri yang pendiam. Menutup pintu kulkas, berangkat kerja tanpa cuci gelas. Dan aku tak bertanya. Mengapa, kapan, hingga kapan lagi.
Monolog
Menginap di rumah teman sebenarnya adalah perpisahan. Karena kita tak sanggup meninggalkan, kita memilih menghilang perlahan. Diam itu menumpuk seperti salju, hingga suatu saat pintu tertutup rapat.