“Aku paling terangsang saat melihatmu hancur.”
Kututup kancing kemeja, lalu membeku. Bayangan di cermin terasa asing. Sudut mataku lebam, di tengkuk bekas gigitan semalam masih membiru. Dompetnya—kutemukan secara kebetulan—kubuka dan kutemukan fotoku. Bukan aku sekarang. Aku yang tertawa, cerah, tak tahu malu.
– Kamu tahu sedang kau lakukan apa? suaranya terdengar dari belakang.
– …apa?
– Kamu dulu pemain tenis, kan? Menyesal jadi begini?
Dia tersenyum. Tapi sorot matanya membeku. Dalam sekejap pikiranku menjadi putih. ‘Orang ini menikmati menghancurkanku.’
Ketika itu kumengerti, namun kakiku tak mundur.
Nafsu selalu melangkah menuju kehancuran
Mengapa manusia menceburkan diri dalam hubungan yang menyakiti, namun tak sanggup melepaskan?
‘Pandangannya meleburkanku’ atau ‘Sentuhannya membakarku’—kata-kata itu hiasan retoris belaka. Kenyataannya lebih kejam. Sesuatu di dalam diriku lebih dulu gemetar bukan karena kekhawatiran ‘Kalau aku benar-benar patah?’ melainkan ketakutan ‘Kalau semua ini berakhir, siapakah aku?’
Kalimat-kalimatnya padaku:
- Kamu tak berbakat. Hanya wajahmu yang menarik perhatian.
- Kamu lemah. Makanya aku harus melindungimu.
Kutahu itu dusta. Kupikir seiring waktu, saat aku makin kuat, kata-kata itu akan kehilangan daya. Ternyata tidak. Sekali terucap, ia meresap ke kulit, ke tulang, ke DNA. Aku yang makin menyusut. Aku pendek, suaraku kecil, nafsu pun menciut.
Tetapi aku tak pergi. Sebab…
‘Kalau ini tak kusebut cinta, lalu apakah yang kutahan selama ini?’
Studi Kasus 1 : Diam Ji-eun hari ke-91
Ji-eun, 28 th, AE di agensi iklan. Tahun lalu ia jatuh ke tangan direktur utama, Hyun-soo. Laki-laki itu 42 th, beristri. Mereka mengaku saling mengenali sejak pandangan pertama.
Malam itu, dalam taksi menuju hotel, Hyun-soo berbisik:
Pergelangan tanganmu terlalu rapuh, aku ingin mematahkannya sekali.
Ji-eun tertawa. Ia mengira itu lelucon.
Proyek-proyek Ji-eun tersedot satu per satu. Setiap ia protes, Hyun-soo menenangkan: Jangan marah, kau akan dapat yang lebih baik.
Ji-eun membaca situasi. Bisikan rekan kantor, tatapan menusuk dari belakang.
Hari ke-91. Ji-eun tak lagi diizinkan menemui klien. Mejanya di pojok paling sunyi.
Aku tak kuat, mari kita akhiri, ucapnya di jalan pulang.
Kalau kau berhenti, karirmu juga berhenti, jawabnya.
Sejak itu Ji-eun tak lagi membuka pesan Kakao terakhir: Aku ingin melihatmu sehari saja.
‘Aku tahu dia menghancurkanku, tapi kenapa aku tetap di sini?’
Studi Kasus 2 : Cermin Soo-jin menyusut 3 cm tiap bulan
Soo-jin, 31 th, pelatih kebugaran. Pacarnya, Do-yoon, instruktur di tempat gym yang sama. Awalnya mereka pasangan idola, kedua anak peraih badan bagus.
Do-yoon mengatur menu Soo-jin: 900 kkal sehari, karbohidrat 0 gr. Bila Soo-jin memberontak, Do-yoon berkata:
Kalau kau gemuk, cintaku akan luntur. Aku jujur.
Awalnya diet itu hanya tujuan. Namun seiring 5 kg, 7 kg, 10 kg hilang, Do-yoon makin sering membungkam Soo-jin. Terlalu lambat. Dasar kau kurang stamina. Aku juga sulit tanpa kamu.
Setiap pagi Soo-jin menimbang badan, lalu menuliskannya di ponsel. Angka turun, hati Do-yoon muncul sebagai tanda ‘like’.
Hingga suatu hari wajah di cermin menjadi kabur. Matanya lebam, bibirnya pecah. Ia sadar:
‘Yang dia inginkan bukan tubuhku, melainkan pemandangan diriku yang lenyap.’
Tetapi Soo-jin tak bisa melepaskan diri. Sebab ia yakin tak ada yang akan mencintainya dalam bentuk ini selain Do-yoon.
Mengapa kita ingin mendorong pintu larangan?
Psikoanalis Balint menyebutnya "proyeksi objek destruktif". Singkatnya, kita menumpahkan bagian ‘buruk’ diri pada pasangan dan memintanya menghapusnya.
Contohnya, anak yang sejak kecil disuarakan kamu tidak istimewa akan terus mencari kata itu di masa dewasa. Hanya dengan begitu luka lama menjadi luka kini, sehingga bisa disembuhkan di titik ini.
Dengan kata lain, k diam-diam berharap pasangan menghancurkan kita. Sebab rasa sakit itu sudah akrab. Dan yang akrab adalah bentuk lain dari aman.
Pertanyaan terakhir
Setiap kali dia merenggutmu, seberapa rapuh kau bertahan?
Di ujungnya, bukankah yang kau cintai bukan dia, melainkan pemandangan dirimu yang menghilang?
Saat ini, jika kau tak bisa pergi—benar-benar—apakah itu demi dia, atau karena dalam dirimu masih ada suara yang berbisik: "Dengan begini, aku masih cukup baik-baik saja"?