Begitu lampu kamar mandi padam, secarik kertas kecil yang diulurkan istrinya hanya bertuliskan satu baris.
'Malam pertama kita, di ranjang hotel tempatmu berbaring, aku juga…'
Kertas lipat kecil itu bergetar. Ketika Lee Jun-hyuk menyeka sudut matanya dengan punggung tangan, istri barunya, Seo-yeon, berbisik pelan.
"Di tengah musik yang berisik, aku masih bisa mendengar napasmu."
Sejak hari itu, Jun-hyuk menggeleda setiap ranjang. Noda di seprai, aroma bantal, bahkan kebiasaannya memiringkan kepala—semua tumpul menjadi petunjuk.
Di atas ranjang dingin putih, kenangan membara
Yang tak Jun-hyuk ketahui: masa lalu Seo-yeon telah memantaunya sejak pintu gedung resepsi.
Ketika lagu selamat datang mengalun, sorot matanya tertancap pada seorang pria di deretan paling belakang.
Ia menyangka tatapan itu sekadar basa-basi, tertuju pada dasi hitam sang tamu.
Sebenarnya, barangkali ia memang tak melihat saat itu.
Ketika jari Jun-hyuk merayap di balik selimut yang ditarik Seo-yeon, ia berbisik:
"Kau tak tahu, hari itu kau datang ke kamar semi-basemen rumahku. Pintu sedikit terbuka, kulihat kau sedang terbaring."
Jun-hyuk melonjak duduk.
"Apa? Aku?"
"Iya, kau. Tapi di sampingmu ada seseorang, dan aku mengintip."
Dunia berputar di kepalanya. Hari yang Seo-yeon maksud adalah musim panas tahun kedua kuliah.
Jun-hyuk pernah menginap di rumah teman wanita dari kelompok belajarnya.
Setelah itu ingatannya terputus.
Di dalam album tersembunyi, ada dirimu dan… dirimu lagi
Sebulan kemudian, saat Seo-yeon dinas luar, Jun-hyuk menemukannya secara kebetulan.
Album mini di dasar laci. Halaman pertama: Seo-yeon masih kecil sedang tidur.
Halaman berikutnya, dan berikutnya—lusinan potret dirinya yang tak pernah ia sadari—
Punggungnya yang sedang berbaring, samping tubuhnya saat mandi, wajahnya dalam tidur yang diabadikan dari jarak dekat.
Setiap foto bertanggal: 4 Juli 2015, 12 Agustus 2015, 23 Januari 2016…
"Ini… sejak kapan?"
"Sejak kali pertama kau datang ke kamarku."
Mengapa kita terpikat pada sesuatu yang disembunyikan
Para psikolog berkata: manusia secara naluri tertarik pada informasi terkunci, tempat rahasia, hubungan tersembunyi.
Bukan pengetahuan, melainkan kekosongan "ketidaktahuan" yang membangkitkan nafsu.
Dalam kasus Seo-yeon, nafsu itu selama tujuh tahun tertuju pada satu pria.
Ia adalah lelaki yang membuatnya jatuh hati sejak pandangan pertama, sekaligus sosok yang tak akan pernah bisa ia miliki.
Karena itu, ia menyimpan setiap jejak Jun-hyuk: sehelai rambut, aroma handuk, pulpen yang pernah dipinjamnya.
Akhirnya, Jun-hyuk yang "tak tahu" menjadi kanvas sempurna baginya.
Di atasnya, ia melukis pria impiannya sesuka hati.
Tanpa kau sadari, barangkali kau menjadi nafsu seseorang
Malam Seo-yeon pulang, Jun-hyuk mengganti seprai dengan warna putih bersih.
Lalu ia bertanya langsung:
"Masih ingat siapa wanita yang tidur bersamaku malam itu?"
Seo-yeon mengangkat wajah.
Pupilnya bergetar.
"Tentu. Itu aku."
Tujuh tahun silam, yang sebenarnya tertidur adalah Seo-yeon.
Jun-hyuk tak tahu apa-apa.
Sejak hari itu, ia tinggal tersembunyi di rumah Jun-hyuk: sudut kamar, lemari, bahkan di bawah ranjang.
Ia datang lebih dulu sebelum sang pacar tiba.
Jun-hyuk bersandar pada dinding.
"Jadi sekarang, kita sedang di mana?"
Seo-yeon melangkah mendekat.
Suaranya rendah, tak bergetar.
"Kau memilihku. Aku pun menginginkannya."
Tidak terasa ingin tahukah kau: di ranjang tempat kau berbaring,
di kamar itu, dalam hidupmu,
mungkin hari ini pun seseorang masih bersembunyi.