Sabtu lalu, ketika ayah mertuaku dilarikan ke IGD karena tekanan darahnya turun lagi, aku harus menaikkan limit kartu kreditku. Biaya MRI Rp 18 juta, uang muka rawat inap Rp 20 juta. Istriku berlinang air mata sambil mencengkeram lenganku. Papa hidup karena kita.
Malam itu, ayah mertuaku, seolah tak terjadi apa-apa, menghisap rokok di balkon rumah sakit. Dari kejauhan kulihat punggungnya, dan aku tak tahu lagi mengapa aku berada di sini.
Yang kau inginkan sesungguhnya bukanlah pengorbanan
Setiap hari gajian, aku mengisi tiga rekening. Satu untuk biaya rumah tangga, satu untuk les anak, satu lagi untuk keluarga istri. Ulang tahun ibu mertua, uang kuliah adik ipar, hidangan lebaran untuk ayah mertua. Angkanya makin membengkak tiap tahun.
Orang bilang aku mantu yang patut berterima kasih. Tapi aku tahu, ini bukan membeli rasa syukur.
Mengapa aku harus melunasi utang memuakkan ini?
Pertanyaan itu tak mau lepas dari kepalaku karena pilihanku memang tak pernah murni. Aku menyerah pada kekusaan keluarga besar, sekaligus menggenggam nafsu jahat: aku ingin mereka tak bisa pergi dariku.
Rak sepatu Min-su
Kim Min-su, 38 tahun, kepala cabang layanan antar-jemput. Lima tahun ini ia membayar biaya les keponakan sebesar Rp 5 juta tiap bulan. Saat suami kakak iparnya terjerat utang judi, Min-su menampung seluruh keluarga itu hingga menyediakan tempat tinggal.
Suatu hari, ia menemukan sebuah buku tabungan di rak sepatu ayah mertuanya.
- Pemilik: Kim Min-su
- Saldo: Rp 0
- Mutasi: transfer rutin bulanan → les anakku
Tabungan yang tak pernah ia pakai sendiri.
Untuk pertama kalinya, Min-su bertanya pada kakak iparnya, "Ini... tabunganku, ya?"
Kakak ipar itu menyingkirkan pandangan. "Ayah yang minta dibuatkan... aku juga nggak tahu persis."
Saat itu Min-su sadar: uang yang ia curahkan bukan sekadar bantuan, melainkan pajak untuk menjadi anggota keluarga. Dan pajak itu tak pernah membeli rasa terima kasih.
Limit kartu Yoon-jeong
Park Yoon-jeong, 41 tahun, dokter spesialis bedah. Tiga tahun lalu ia membelikan rumah untuk orang tua suaminya. Kontrak Rp 5 miliar, semua atas nama Yoon-jeong. Sebagai imbalan, keluarga suaminya memujinya sebagai anak perempuan yang berbakti.
Tapi Yoon-jeong tahu, yang ia inginkan bukan pujian.
Lebaran lalu, ayah mertuanya wafat. Di ruang jenazah, ibu mertuanya menggenggam tangannya. Kalau kamu nggak ada, bagaimana kami...
Saat itu Yoon-jeong merinding. Sekarang aku tak bisa pergi dari keluarga ini.
Inilah momen yang sesungguhnya ia nanti: belenggu yang tak bisa dilepas, kepuasan memusnahkan diri yang ia ciptakan sendiri.
Alasan sesungguhnya kita memberi uang
Psikolog Bruner berkata, "Orang sering tak mampu mengatakan apa yang sebenarnya mereka inginkan. Sebagai gantinya, mereka mengulangi perilaku di sekelilingnya."
Kita memberi uang pada keluarga istri bukan untuk menolong mereka. Kita memberi agar mereka tak bisa pergi dari kita.
Kita ingin mengukir dalam benak mereka fakta bahwa mereka seharusnya seumur hidup berterima kasih pada kita.
Uang bukan sekadar alat pembayaran, melainkan kondom hubungan. Menahan emosi, sekaligus tak menyelesaikan apa-apa.
Kau yang berdiri di ujungnya
Saat ini, apakah yang kau pikirkan: biaya rumah sakit ibu mertua? Dana pernikahan adik ipar?
Mungkin yang sesungguhnya kau tunggu adalah saat membuktikan bahwa mereka tak bisa hidup tanpamu.
Kau ingin terus membuktikan diri lewat jasa yang kau berikan, bukan lewat cinta yang kau terima.
Pertanyaan paling kejam adalah:
Saat kau memberi mereka uang, apakah kau ingin memastikan betapa besar mereka mencintaimu, ataukah kau ingin memastikan betapa besarnya kau mencintai mereka?