“Ia membuka kancing pertamaku” Di depan rak rokok minimarket, buku kakiku membeku, panas aspal musim panas menancap ke kulit. Di seberang, toko sayur—Min-seok berdiri. Kebiasaan mengusap leher dengan dua tangan masih sama; aku melupakan ingatan tubuh itu hanya dalam sehari, tapi baginya masih utuh. Tapi pandanganku tak tertuju padanya. Di sisi kirinya, seorang perempuan baru. Di genggamannya, kantong plastik. Sekilas aku tahu. Di dalamnya terlipat celana jeans yang hingga pekan lalu melekat bak kulit. Lubang kecil di atas lutut kanan—bekas hobi kami menekan jari ke sana seolah bermain. Lubang itu tak pernah sirna walau dicuci, seperti waktu kami. Ia mengeluarkan celana itu lalu perlahan membuka kancing pertama. crrrik— suara resleting turun tak terdengar, tapi di kepalaku terngiang tajam. --- ## “Ia mengorek celah tubuhku” Di atas kertas yang kutandatangani sudah tak ada lagi kata “kita”. Tetapi dadaku tak hancur, lebih seperti dikuliti. Plastik dry-cleaning yang diperas rapi melintas di sekujur tubuh. > Mungkin kini ia mengenakan celanaku. > Dan Min-seok, dari belakang, merangkul pinggangnya lalu sekali lagi menurunkan resleting. Masih adakah aroma diriku di ranjang yang kutinggal? Akankah ia menuntun jari Min-seok ke tempat tidur tempatku pernah berbaring? Imaji sampai di sini—harus berhenti di sini—namun jari kakiku gemetar. --- ## “Parkir bawah tanah, pertemuan kedua” Ji-hye, 34 tahun, hari ke-97 sejak bercerai. Secara kebetulan—atau sedikit disengaja—pindah ke kompleks tempat Min-seok dan perempuan itu tinggal. Pertama kali melihat mereka di parkir bawah tanah. Mobil Min-seok menyentuh BMW-ku lalu melaju. Tatapan dari jendela, sosoknya di belakang, satu langkah di belakangnya. Aku menghentikan mobil. Kaki yang menekan rem gemetar. Kedua kalinya di lift. Begitu pintu terbuka, wajahnya langsung bertemu pandang denganku. “Oh, Ji-hye-ssi?” Sebuah senyuman. Saat Min-seok memindahkan namaku ke lidahnya, ujung lidahnya pasti melengkung. Sebelum pintu tertutup, ia mengangkat kantong itu sedikit. Celanaku terlihat. --- ## “Ruang kosong dalam lemari” Orang bilang cemburu adalah perasaan terhadap orang lain. Tapi ini soal kekuasaan. Saat ruang yang kukuasai, waktu yang kuhuni, kenangan yang kucipta tiba-tiba ditempati orang baru—itu bukan penggantian, melainkan penghapusan. Aku mengemudi lagi di parkir bawah tanah. Kaki yang menekan rem masih gemetar. Di depan lift, ia kembali tersenyum. “Oh, Ji-hye-ssi?” Aku tak bisa menjawab. Bayangannya mengenakan celanaku bersama Min-seok—semua itu berputar hanya di kepalaku. --- ## “Ia mengisi kekosonganku” Pulang ke rumah, melepas mantel yang biasa menggantung di gagang pintu. Memo magnet di pintu kulkas, sehelai rambut yang bergelinding di bawah sofa—setiap ia membersihkannya, sedikit demi sedikit aku lenyap. Lalu pintu tertutup. Suara pintu lift menutup bergema di koridor. Dia dan Min-seok, serta celanaku. Aku masih berdiri di sana. --- ### Suhu, 34℃ Kaleng bir yang kuambil dari laci freezer terasa dingin di telapak tangan. Ia mengenakan celanaku bersama Min-seok—bukan sekadar cemburu, melainkan menyaksikan diriku terhapus. Aku keluar ke balkon, menghisap rokok. Jendela lantai bawah mati satu perusuh. Di kamar mana mereka? Saat ia mengenakan celanaku dan Min-seok memeluk pinggangnya—anganan itu masih membuat tubuhku bergetar. Aku meletakkan kaleng bir di meja samping ranjang. Sadar bahwa aku tak bisa masuk lagi ke rumah itu mengosongkan dadaku. Ia mengisi kekosonganku, ia mengisi kekosongannya, dan kita hidup tanpa sisa satu sama lain. Suhu masih 34℃. Malam musim panas, asap rokok melayang di langit-langit. Saat jari Min-seok merangkul pinggangnya—aku memejamkan mata pun masih melihatnya. Dan sejauh itu pula, aku terhapus.
← Kembali